Dulu, waktu saya kecil, saya selalu ingin jadi pemain bola yang bisa main di posisi mana aja. Bek kanan. Bek kiri. Bek tengah. Gelandang.
Bukan karena saya memang jago di semua posisi. Tapi karena saya ingin menjadi “orang yang versatile”, orang yang bisa ditaruh di mana saja oleh pelatih tapi tetap bisa perform.
Tapi apa yang terjadi? Saya malah nggak jago di posisi manapun. Setiap kali saya mulai nyaman di satu posisi, saya malah excited dengan posisi lain dan minta untuk pindah. Akhirnya, pemain yang milih untuk stick di satu posisi-lah yang jadi starter.
Sementara saya? Saya cuma jadi orang “fleksibel” yang duduk di bangku cadangan.
Ini bukan cuma soal sepak bola. Tapi ini cara kebanyakan orang dalam mengelola minat mereka.
Kamu punya terlalu banyak hal yang ingin kamu pelajari. Terlalu banyak skill yang ingin kamu kuasai. Terlalu banyak arah yang ingin dituju.
Pengen belajar desain. Coding. Investasi. Fitness. Bahasa baru. Dan mungkin mulai bisnis di sela-selanya. Semuanya kedengarannya menarik. Semuanya terasa penting.
Jadi kamu coba semuanya sekaligus. Download lima aplikasi, beli tiga kursus, nonton ratusan tutorial. Di dua minggu pertama, kamu memang merasa kamu mendapatkan pencerahan karena nggak pernah mengalami kemajuan progress seperti ini sebelumnya.
Lalu energimu habis. Kok nggak ada yang nyantol. Nggak ada yang selesai. Kamu melihat proyek-proyek yang kamu buat cuma selesai setengah jadi dan kamu tiba-tiba sadar: ternyata kamu nggak beneran jago di satu hal pun. Selama ini kamu cuma mengumpulkan minat.
Yang paling bikin frustrasi itu bukan gagalnya. Tapi ketidaktahuan kamu tentang mana yang harusnya kamu fokuskan.
Punya banyak minat itu nggak salah
Saya mau menekankan ini. Punya banyak minat itu nggak salah.
Coba lihat orang-orang sukses yang kamu jadikan inspirasi. Nggak ada orang yang cuma jago di satu bidang. Mereka adalah generalis. Mereka paham tentang marketing. Mereka paham tentang produk. Mereka paham tentang “orang” dan bisa memimpin mereka. Mereka paham dengan keuangan dan bisa mengambil keputusan yang tepat.
Katanya : “Jack of all trades, master of none”. Tapi quote ini cuma potongan kecil dari quotes yang sebenarnya. Yang benar adalah : “Jack of all trades, master of none. But often times better than a master of one.”
Maksudnya, menjadi generalis itu seringnya jauh lebih baik daripada menjadi seorang spesialis murni. Karena bisa mengkoneksikannya ke berbagai bidang, beradaptasi dengan lebih cepat, dan melihat peluang yang nggak bisa dilihat seorang spesialis.
“Lalu, kalau dokter, pengacara, pilot, dan lain lain itu gimana?”
Kalau kamu bertanya seperti ini, artinya kamu belum paham intinya. Memangnya mereka itu hanya bisa menolong pasien? Menolong klien? Menerbangkan pesawat? Mereka juga punya banyak area di dalam hidup yang harus dikuasai. Mengatur keuangan. Mencari network. Dan lain lain.
Dunia sekarang nggak lagi mengistimewakan orang yang cuma ahli di satu bidang. Yang dihargai adalah orang yang bisa menghubungkan banyak titik dari berbagai bidang. Orang yang bisa melihat pola yang nggak bisa dilihat seorang spesialis karena pandangan mereka terlalu sempit.
Jadi, punya minat yang banyak itu bukan bug. Itu fitur. Tapi cuma kalau kamu tau cara mengelolanya. Karena saat ini, kamu belum bisa mengelolanya. Kamu tenggelam ke dalamnya.
Kenapa nggak ada yang nyantol
Cuma ada dua alasan kenapa minatmu itu nggak pernah jadi skill yang benar-benar kamu kuasai.
Yang pertama: kamu terburu-buru.
Kamu mencoba belajar semuanya di waktu yang sama karena semuanya terasa urgent. Tapi, bukan begitu caranya belajar. Menguasai suatu skill itu butuh waktu. Fokus itu membutuhkan komitmen. Dan kalau sudah komit, artinya kamu harus bisa bilang nggak ke sembilan hal lain supaya bisa bilang iya ke satu hal. Tapi nggak selalu. Cuma untuk sekarang saja.
Yang kedua: kamu mengejar hal yang sebenarnya nggak penting untukmu.
Shiny object syndrome. Kamu melihat ada orang di internet yang bisa membuat sesuatu yang kelihatan keren, jadi kamu juga pengen. Tapi sebenarnya kamu nggak benar-benar peduli dengan hal itu. Kamu cuma peduli dengan tampilannya. Dan begitu tampilannya udah nggak kelihatan menarik, waktu proses belajarnya jadi susah, membosankan, atau lambat, kamu menyerah dan loncat ke hal berikutnya yang kelihatan lebih mengkilap.
Ini bukan masalah dimana kamu punya terlalu banyak minat. Ini artinya kamu nggak punya filter.
Mulai dari problem, bukan dari minat
Di sinilah kebanyakan orang keliru. Mereka melihat daftar minat mereka dan bertanya: “Harus pilih yang mana?”
Pertanyaannya salah.
Harusnya: “Masalah apa yang ada di hidupku yang harus diselesaikan sekarang?”
Karena minat yang benar-benar nyantol, yang benar-benar akan menjadi skill, adalah yang terhubung ke masalah yang nyata yang terjadi di hidupmu.
Kamu lagi kesulitan secara finansial? Itu problem. Pelajari sesuatu yang bisa membantu kamu menghasilkan uang. Freelancing, jualan, skill yang bisa dijual. Sekarang, kamu punya alasan untuk mendalami minat tersebut.
Badan kamu nggak sehat? Itu problem. Pelajari gaya hidup sehat. Bukan karena lagi tren, tapi karena tubuhmu sudah memberikan sinyal kalau ada yang harus berubah.
Kamu kesepian? Itu problem. Pelajari cara membangun relasi dengan orang. Cara agar terlihat lebih menarik. Cara membangun relasi.
Ketika minatmu terhubung ke masalah yang nyata, kamu nggak lagi butuh motivasi untuk bisa terus jalan. Masalahnya sendiri yang akan menarik kamu ke depan. Dan skill yang kamu kuasai dari situ bisa benar-benar menjadi bagian dari dirimu, bukan hobi yang cuma kamu coba selama dua minggu.
Kalau masih bingung mau mulai dari mana: Coba lihat apa yang ada di depanmu sekarang. Lihat apa halaman rekomendasi Youtube-mu. Konten atau tutorial apa yang terus-menerus kamu save tapi nggak pernah kamu terapkan. Rasa penasaranmu sudah menunjuk ke suatu arah. Ikuti.
Berpikir jangka panjang
Sebelum kamu menginvestasikan waktumu di minat apapun, coba jawab dulu pertanyaan ini:
“Aku tertarik dengan hal ini karena ini bisa membantu hidupku, atau karena pengen kelihatan keren?”
Kedengarannya simpel tapi ini bisa menyaring 80% hal-hal yang sebenarnya nggak penting untukmu.
Kamu belajar sulap karena kamu beneran suka perform dan ingin berkarir sebagai pesulap? Okay, fine. Tapi kalau belajar sulap karena melihat video viral dan ingin kelihatan keren di mata orang lain? Itu shiny object syndrome. Paling sebulan lagi juga berhenti.
Fokus ke hal-hal yang bisa menjadi life multiplier. Skill yang akan membantu kamu di banyak bidang sekaligus. Hal-hal yang bisa membuat kamu lebih sehat, lebih kaya, atau lebih baik dalam berhubungan dengan orang lain. Itu minat yang harus dijaga.
Sisanya? Kubur saja.
Kuburan minat
Tulis semua minat yang kamu punya sekarang. Semuanya. Lalu sortir.
Mana yang bisa menyelesaikan masalah nyata yang sekarang kamu alami di hidupmu? Ini yang dikeep.
Mana yang kedengarannya seru tapi nggak menyelesaikan masalah yang sedang kamu alami? Masukkan ke kuburan minat. Masukkan ke daftar “bukan prioritas”. Nggak dihapus. Cuma diparkir dulu.
Kalau ada minat yang masuk di kuburanmu selama setahun dan kamu nggak pernah memikirkannya lagi, itu bukan minat yang murni. Tapi minat yang kamu dapat dari dopamine spike saat kamu melihatnya.
Ini bukan artinya kamu membunuh rasa penasaranmu. Tapi melindungi waktumu. Karena waktu itu adalah satu-satunya hal yang nggak bisa kamu dapat kembali, dan kamu nggak bisa menyebarkannya ke lima belas minat sekaligus. Karena nanti nggak ada satupun yang dapat cukup waktu untuk dikembangkan.
Satu per satu.
Setelah kamu memilih satu, commit. Nggak untuk selama-lamanya. Tapi harus cukup lama agar bisa mengantarkamu ke suatu tempat.
Ini sistem yang works:
Buat milestone yang jelas. Target mingguan, bulanan, enam bulanan. Bukan target yang abstrak seperti “jago desain.” Tapi harus yang spesifik seperti “selesaikan satu proyek di bulan ketiga.” Ini yang akan memberikan kamu arah dan membuat kamu tau kapan waktunya untuk pindah ke minat berikutnya.
Jangan pernah biarkan dirimu mengalami “zero days”. Setiap hari, kerjakan sesuatu yang berhubungan dengan minat yang sedang kamu pelajari. Sekecil apapun. Karena konsistensi itu lebih efektif daripada intensitas latihan yang berat.
Buat proyek pribadi, jangan sekadar menimbun pengetahuan. Pertanyaan pertama ketika kamu belajar sesuatu yang baru: “Apa yang bisa saya ciptakan dari ini?” Jangan cuma mengkonsumsi tutorial. Kamu harus menciptakan sesuatu. Kamu harus menyelesaikan masalah yang nyata. Skill itu nggak bisa terbentuk hanya dari belajar, tapi dari menggunakan skill itu untuk menciptakan sesuatu.
Dan terakhir, banjiri otakmu. Ubah feed media sosial-mu. Follow orang-orang yang menjelaskan minatmu. Gabung komunitas. Temui orang-orang dengan minat yang sama. Lingkunganmu akan membentuk perilakumu, dan lingkungan yang sesuai akan jauh lebih mendorongmu untuk terus belajar dibandingkan sekedar karena kemauan.
Kapan move on. Kapan berhenti.
Kamu bisa move on ketika skill-nya sudah benar-benar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ketika milestone yang kamu tetapkan sudah tercapai. Ketika kamu sudah bisa pakai skill itu untuk menyelesaikan masalah yang nyata tanpa harus mikir terlalu keras. Ini yang disebut dengan kompetensi. Kamu nggak harus mencapai level “mastery”. Kamu hanya harus menguasainya ke level yang “cukup”.
Lalu pilih minat berikutnya dari daftar minatmu. Ulangi lagi prosesnya.
Berhenti itu berbeda dari move on.
Kamu hanya berhenti ketika minat itu sudah nggak memberikan value apapun ke hidupmu. Kamu nggak boleh berhenti ketika proses belajarnya susah. Justru momen kesulitan itu adalah waktu belajar sesungguhnya. Kamu hanya boleh berhenti ketika kamu secara sadar dan jujur bilang: ini nggak bikin aku lebih sehat, nggak bikin aku lebih kaya, nggak bikin aku lebih baik secara sosial. Kamu hanya boleh berhenti ketika kamu sadar kalau kamu mempelajari ini cuma supaya kamu kelihatan keren, dan ternyata malah nggak bikin kamu keren sama sekali.
Menyerah karena susah itu pengecut. Menyerah karena kamu sadar kalau hal tersebut nggak ada gunanya itu bijak.
Kamu nggak perlu menguasai semuanya. Kamu cuma perlu jadi “mini” jack of all trades dan master of at least one.
Artinya kamu harus menerima kalau kamu bakal jadi pemula berkali-kali di hidupmu. Kamu harus bisa nyaman dengan kondisi nggak jago untuk sementara waktu. Harus punya kepercayaan yang cukup dengan prosesnya untuk bisa bertahan cukup lama di satu hal sebelum loncat ke yang berikutnya.
Minatmu yang banyak itu nggak menahan kamu. Tapi ketidakmampuanmu dalam mengelolanya lah yang menahanmu.
Mulai dari masalah nyata yang ada di depan matamu. Fokus ke satu hal. Pelajari sampai minatmu itu paling nggak sampai level “berguna”. Baru pindah ke yang berikutnya.
Satu per satu. Begitulah caranya supaya semua minatmu jadi berarti.
— Galih Cakra, Sentrifugal
Related
Pillar: [[Bisnis Sentrifugal]] Pipeline: [[content-pipeline]] Database: [[Newsletter Database]]