Hei.

Saya tau kamu sekarang lagi di mana. Kamu lagi di fase dimana semua rasanya nggak jelas. Teman-teman sudah pada kerja, nikah, beli rumah, beli mobil. Sepupu-sepupu kamu juga sudah pada mapan. Dan setiap kumpul keluarga kamu ngerasa kayak lagi “diinterogasi”. “Sekarang lagi ngapain lih?”. “Kapan nikah?”, “Udah dapat kerja belum?”

Dan kamu cuma bisa duduk diam di situ, senyum, pura-pura bilang semuanya baik-baik saja, katamu “Doain aja pakdhe, budhe”, padahal di dalam hati kamu stress dan tertekan karena merasa tertinggal dari semua orang.

Saya ingat perasaan itu. Karena itu hidup saya yang dulu.

Saya selalu dibanding-bandingin dengan sepupu di setiap acara keluarga. Oleh orang-orang yang kelihatannya peduli dan ingin sekali mengontrol masa depan saya. Oleh orang-orang yang menganggap kalau hidup saya itu nggak normal karena kelihatan paling beda dibandingkan dengan yang lain.

Ada beberapa hal yang mau saya bilang ke kamu. Hal-hal yang saya harap dulu ada orang lain yang bisa bilang ke saya.


Yang kamu rasakan itu normal

Bingung. Panik. Perasaan kayak semua orang kelihatannya sudah bergerak maju sementara kamu cuma diam di tempat.

Ini wajar.

Ini namanya quarter life crisis. Dan memang mayoritas orang seumuranmu mengalami hal yang sama persis.

Hidupmu nggak berantakan. Kamu nggak tertinggal. Hanya saja, kamu sekarang hidup di era di mana informasi bergerak terlalu cepat sampai-sampai ekspektasi orang jadi nggak masuk akal. Generasi orang tua kita itu jalannya simpel. Lulus, kerja, nikah, beli rumah, pensiun. Generasimu? Pilihannya nggak terbatas, tapi tekanannya juga nggak terbatas.

Sosmed bikin kamu makin tertekan. Kamu melihat story dan postingan orang lain, promosi kerjaan, liburan, lamaran, dan kamu membandingkannya dengan hidupmu sendiri. Ini yang bikin kamu selalu ngerasa kurang. Kamu membandingkan bab 15 di buku kehidupan orang lain sementara kamu masih di bab 3.

Tapi kamu nggak pernah lihat apa yang terjadi di belakang layar. Kebanyakan orang yang kamu kira hidupnya sudah sejahtera, sebenarnya juga masih kebingungan. Tapi nggak mereka tunjukkin di media sosial.


Hidup itu nggak linier

Pikiranmu bakal berubah dalam waktu dekat. Dan prosesnya berat.

Teman-temanmu bakal banyak yang meninggal. Ini bukan kiasan. Mereka beneran meninggal.

Tau apa yang bikin kamu berubah? Kamu sadar kalau mereka bahkan nggak bisa bermimpi lagi. Hal sesederhana membayangkan masa depan, yang selalu membuat kamu stress, mereka nggak bisa lagi melakukannya.

Sementara kamu masih hidup, masih sehat, masih punya waktu bertahun-tahun di depanmu, dan kamu masih panik karena nggak punya karir yang bisa dipamerin waktu reuni?

Saya bilang ini bukan supaya kamu ngerasa kalau rasa sakitmu, stressmu, perasaan tertekanmu itu nggak valid. Masalah yang kamu alami itu nyata. Tapi saya ingin kamu memahami skalanya. Kamu stress karena nggak punya pencapaian apa-apa? Ini kacang goreng. Ada orang yang bahkan rela untuk menukar segalanya di hidupnya supaya bisa dapat satu hari lagi untuk mencoba. Kamu masih punya ribuan hari. Ribuan.

Jangan habiskan harimu untuk membandingkan dirimu dengan orang yang sedang berlari di jalur yang berbeda.


Kamu bingung karena belum mencoba cukup banyak hal

Kamu nggak bodoh atau malas. Kamu nggak tau mau ngapain di hidupmu itu karena kamu nggak pernah mencoba banyak hal. Kamu itu belum tau apa-apa. Tapi kamu nggak berani untuk bereksperimen.

Gimana caranya kamu bisa tau kamu jago di suatu bidang kalau kamu cuma ngelakuin apa yang disuruh sama sekolah? Gimana caranya kamu bisa nemuin “jalanmu” kalau kamu nggak pernah mencoba rute baru yang nggak ada di peta.

Orang-orang ngerasa “hilang” di umur 20-an itu karena di sepanjang hidupnya, orang lain yang memetakan jalan untuk dia. Orang lain yang ngasih struktur harus kemana, dan harus ngelakuin apa. Sekolah nentuin apa yang harus dipelajari, kapan harus masuk, gimana kamu bakal dinilai. Terus tiba-tiba kamu lulus dan strukturnya hilang. Nggak ada lagi yang kasih tugas. Nggak ada lagi orang yang ngasih tau apa langkah selanjutnya.

Dan bukannya membangun strukturmu sendiri, kamu malah diam. Atau parahnya kamu membiarkan orang lain membangunkannya untuk kamu berdasarkan ekspektasi mereka, bukan berdasarkan kebutuhan, dan kemampuanmu.


Pesan untuk diri saya di umur 20-an

Berhenti mengikuti standar orang lain.

Setiap orang itu punya otak yang berbeda, kemampuan yang berbeda, dan lingkungan yang berbeda. Apa yang berhasil untuk sepupumu belum tentu bisa berhasil untuk kamu. Apa yang kelihatan hebat di Instagram orang lain bisa jadi sama sekali nggak cocok untuk hidupmu.

Kamu harus menciptakan standar sendiri berdasarkan kondisimu sendiri. Bukan karena kamu spesial. Tapi karena kamu memang berbeda. Semua orang berbeda. Dan kamu nggak bisa pura-pura bilang kalau semuanya itu sama saja. Kamu nggak bisa mengcopy paste hidup orang lain.

Tugas kita di dalam hidup adalah memecahkan masalah.

Sekolah, kerja, bisnis, pada dasarnya yang kita lakukan itu memecahkan masalah. Tapi kebanyakan orang cuma memecahkan masalah yang itu-itu aja. Yang repetitif. Yang umum. Mode autopilot.

Hidup yang luar biasa itu tercipta ketika kamu bisa memecahkan masalah yang lebih besar dan lebih unik dibandingkan dengan masalah lain. Dan satu-satunya cara untuk menemukan masalah seperti itu adalah dengan mencoba banyak hal baru.

Kamu merasa tersesat karena belum menemukan masalah yang cukup banyak yang layak untuk dipecahkan. Bukan karena kamu bodoh dan nggak bisa apa-apa. Tapi karena kamu belum menjelajahi lebih banyak area di luar hidupmu.

Ciptakan sesuatu.

Kamu ingat nggak perasaan ketika kamu akhirnya bisa lulus sekolah? atau lulus kuliah? atau lulus ujian penting? Kamu ingat nggak perasaan yang muncul setelahnya?

Kamu merasa puas.

Ini yang terjadi setiap kali kamu menyelesaikan sesuatu. Dan di fase hidupmu sekarang, kamu nggak lagi merasakan kepuasan yang sama. Karena setelah lulus, nggak ada lagi orang yang ngasih kamu tugas. Nggak ada yang ngasih project. Nggak ada.

Kamu harus menciptakannya sendiri.

Kebanyakan orang nggak pernah melakukan ini. Mereka nunggu orang lain untuk bilang apa yang harus mereka lakukan. Mereka nunggu orang lain untuk ngasih tau mana jalan yang harus ditempuh. Dan ketika nggak ada yang ngasih tau, mereka berhenti bergerak.

Bikin proyek. Terserah apapun itu. Bisnis. Website. Tulisan. Karya. Apa saja yang bisa menyelesaikan masalah. Dan nggak harus perfect. Yang penting ada. Karena kamu bisa menemukan arah yang ingin kamu tuju, mendapatkan skill, dan mendapatkan momentum untuk terus maju ketika kamu menciptakan sesuatu.

Ada alasannya kenapa orang-orang yang sudah pensiun lebih cepat meninggal karena nggak ngapa-ngapain. Otak manusia itu harus tetap kerja. Butuh project. Butuh tujuan. Kalau nggak ada, lama-lama akan mati.

Hilangkan distraksi.

Ada kalanya kamu akan stuck karena terdistraksi. Kamu nggak bakal sadar seberapa banyak waktu yang hilang untuk scrolling, menunda, ragu-ragu, belajar tapi nggak pernah aksi, dan lainnya.

Ketika kamu ragu harus melakukan suatu hal atau nggak, lakukan saja. Selalu condong ke aksi.

Jangan terlalu lama berpikir, jangan terlalu merasa nyaman. Aksi.

Kamu harus cepat-cepat gagal.

Orang-orang sering bilang kalau kita harus belajar dari kegagalan. Tapi kamu bakal sadar, kalau nggak semua orang bisa belajar. Orang nggak paham maksudnya.

Maksudnya adalah : mencoba, gagal, belajar. Mencoba lagi, gagal lagi, belajar lagi. Mencoba lagi, berhasil, kamu tetap belajar.

Jangan pernah menghindari dari kegagalan. Kamu harus segera mengalami kegagalan agar kamu lebih cepat belajar. Karena setiap kegagalan itu data. Data yang membawa kamu ke keputusan, skill, dan jalan yang benar-benar works.

Kamu masih muda. Kamu itu masih belum tau apa-apa. Belum punya pengalaman. Jangan ngotot bilang kalau ilmumu sudah cukup. Perbanyak pengalamanmu. Dan pengalaman itu cuma bisa datang dari kegagalan. Itu pembelajaran sesungguhnya. Jadi kamu harus cepat-cepat gagal. Kalau bisa, disengajai. Kegagalan di umur 22 tahun itu harganya murah. Karena kegagalan yang sama di umur 42 tahun itu biayanya bisa 10x lipat lebih mahal.


Sekarang, umur saya 32 tahun. Hidup saya memang nggak perfect. Karena memang nggak akan pernah bisa. Saya masih sering salah. Masih sering bingung. Dan kadang masih ragu-ragu.

Tapi saya nggak pernah menyesali kegagalan yang pernah saya alami. Nggak ada satupun penyeselan. Yang saya sesali itu waktu bertahun-tahun yang hilang karena terlalu takut mencoba. Waktu yang terbuang untuk sibuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain yang jalan hidupnya memang berbeda.

Kamu masih punya waktu. Masih sehat. Masih bisa bermiimpi, bisa merencanakan, masih bisa mencoba.

Banyak orang yang bahkan untuk bermimpi saja sudah nggak bisa. Mereka yang sudah nggak akan dapat kesempatan lagi untuk mencoba. Mereka yang rela menukar segalanya untuk satu kesempatan lagi.

Kamu masih punya kesempatan. Sekarang. Hari ini.

Jangan cuma duduk diam stress mikirin kenapa hidupmu nggak kayak hidup orang lain.

Mulai beraksi. Mulai mencoba. Mulai gagal.

Sisanya kamu akan temui sendiri di perjalananmu.

— Dari saya di umur 32. Yang hidupnya ternyata nggak sesuai rencana. Tapi setidaknya, saya sudah mencoba.

— Galih Cakra, Sentrifugal


Pillar: [[Bisnis Sentrifugal]] Pipeline: [[content-pipeline]] Database: [[Newsletter Database]]