Kamu lapar? tinggal buka aplikasi, klik empat kali, 20 menit kemudian makanan datang. Kamu mau tau sesuatu? tanya chatGPT, lima detik kemudian jawabannya muncul. Mau pergi ke suatu tempat? tinggal pesan ojol, 5 menit kemudian jemputanmu datang. Kamu bosan? tinggal ambil HP, scroll, tau-tau tiga jam sudah berlalu.
Semua hal di hidupmu sudah selesai bahkan sebelum sempat jadi sebuah masalah.
Dan ini nggak salah kok. Kenapa juga harus pilih yang lebih susah kalau yang gampang sudah ada di depan mata?
Tapi, setelah menjalani hidup yang serba mudah, saya merasa ada yang salah.
Selama berbulan-bulan, hampir setiap hari saya selalu pesan makanan. Dan setiap kali saya makan, saya nggak pernah merasakan apa-apa. Makan tinggal makan, selesai, terus lanjut ngerjain yang lain lagi. Sekedar isi bahan bakar dan nggak pernah merasa puas.
Tapi ketika saya mencoba masak sendiri, meskipun cuma masakan sederhana, rasanya bisa berbeda. Bukan karena masakannya lebih enak. Tapi karena ada rasa puas dari effort yang sudah saya keluarkan.
Pola yang sama juga terjadi di banyak hal. Jalan kaki ke suatu tempat dibandingkan naik motor jadi lebih memuaskan. Menulis sendiri dibandingkan membiarkan AI yang mengerjakan jadi lebih fulfilling. Dan masih banyak lagi.
Meskipun hasilnya sama, tapi yang satunya membuat otak dan fisik saya bekerja, sedangkan yang satunya enggak.
Otak kita itu bisa menjadi semakin lemah. Bukan karena sakit. Tapi karena nggak pernah dipakai untuk mengerjakan hal yang susah.
Padahal, otak itu seperti otot. Kalau tidak pernah dilatih, lama-lama mengecil. Atrofi. Dan inilah yang terjadi kalau semua hal di hidupmu itu dilakukan tanpa pernah mengeluarkan effort sama sekali. Kemampuan problem solving jadi semakin lemah. Resilience jadi turun. Dan toleransi terhadap ketidaknyamanan hilang.
Yang paling bikin saya khawatir adalah, standar tentang apa yang “beneran susah” itu jadi rusak. Sekedar buka HP, scroll-scroll cari resto yang paling enak atau yang paling murah itu jadi terasa kayak effort yang besar. Bingung mau makan apa jadi terasa masalah besar. Mengerjakan tugas yang butuh waktu lebih dari 15 menit jadi terasa menguras mental.
Kamu jadi kehilangan kemampuan untuk membedakan mana yang benar-benar susah dan mana yang sebenarnya biasa saja.
Dan ini bahaya kalau dibiarkan. Karena yang namanya hidup itu kan nggak akan selalu mudah. Di satu titik, masalah yang besar pasti akan datang. Dan ketika datang, kamu yang terbiasa hidup serba mudah nggak akan bisa menghadapinya.
Dirimu sekarang yang maunya serba mudah, secara perlahan malah membuat kamu kesulitan di masa depan.
Kenapa ini bisa terjadi?
Ini bukan salahmu. Tapi ini tetap tanggung jawabmu.
Otak manusia itu tujuan utamanya adalah untuk bertahan hidup, bukan untuk berkembang. Secara default, kita akan selalu memilih yang bisa menghemat tenaga, menghindari rasa sakit, dan mencari kepastian. Nenek moyang kita survive karena hal ini. Orang yang istirahat di saat dia bisa istirahat, yang menghindari bahaya yang nggak diperlukan, mereka itu yang bisa bertahan hidup.
Masalahnya, sekarang situasinya sudah berubah. Tapi prinsip survivalnya masih sama.
Dulu, “nyaman” itu langka. Untuk makan harus susah. Akses informasi susah. Hiburan juga terbatas. Jadi ketika otak bilang “hei kamu harus istirahat”, “kamu harus menghindari yang nggak nyaman”, itu masuk akal. Karena kenyamanan itu memang sesuatu yang pantas untuk kamu dapatkan setelah berusaha.
Sekarang? Kenyamanan itu sudah jadi defaultnya. Kamu bangun tidur sudah nyaman. Hari-harimu dijalani dengan nyaman. Tidur lagi dengan nyaman. Kenyamananmu yang sekarang itu dianggap sebagai bagian dari survival. Dan kamu akan terus menerus mencari hal yang jauh lebih nyaman lagi.
Apalagi sekarang kamu punya akses yang nggak terbatas ke instant gratification. Kamu bisa mendapatkan dopamine kapanpun kamu mau. Setiap aplikasi di HP-mu dirancang untuk memberikan rasa puas tanpa meminta apapun dari kamu. Ini yang secara perlahan menghancurkan kemampuanmu untuk menunda kepuasan. Ekspektasmu jadi : semua harus cepat, semua harus gampang.
Padahal, hal-hal yang valuenya tinggi, seperti membangun bisnis, belajar skill, mendapatkan experience, semuanya butuh investasi jangka panjang. Butuh usaha konsisten tanpa ada imbalan yang langsung kelihatan dalam jangka pendek. Dan kalau otakmu sudah terprogram untuk mengharapkan hasil yang instan, dia akan menolak apapun yang nggak bisa memberikan hal itu.
Ini yang menciptakan atrofi mental. Kemampuan problem solving-mu jadi melemah karena nggak pernah dipakai. Resilience-mu turun karena nggak pernah diuji. Toleransimu terhadap ketidaknyamanan jadi hilang karena kamu nggak pernah kuat untuk duduk lama dengan rasa nggak nyaman.
Hidup yang serba mudah itu memang nyaman. Tapi justru kenyamanan ini yang menciptakan hidup yang susah di masa depan. Karena di satu titik di masa depan, kamu pasti akan menemukan masalah besar. Ini pasti terjadi. Dan kamu akan menghadapai masalah tersebut dengan mindset yang nggak pernah dilatih untuk menghadapinya.
Orang memang nggak mau susah
Orang itu sebenarnya nggak takut dengan hal yang susah. Mereka memang nggak mau susah.
Ini memang masuk akal. Tapi masalahnya, pandangan mereka tentang apa yang dianggap “susah” itu sudah berubah. Hal yang kelihatannya sedikit sulit sekarang jadi terasa sangat sulit. Karena mereka nggak pernah sekalipun menghadapi hal yang benar-benar berat. Standarnya sudah rusak.
Yang orang nggak mau lakukan itu sebenarnya sederhana. Mereka enggak mau mengeluarkan effort yang besar karena tau prosesnya bakal nggak enak. Secara logika mereka sebenarnya sudah paham kalau membangun sesuatu yang bermakna itu butuh waktu. Tapi mereka nggak pernah benar-benar paham dengan reward yang bisa didapatkan di ujung proses. Karena reward itu abstrak. Nggak bisa diraba. Nggak bisa dirasakan sekarang.
Kalau boleh jujur, mungkin mereka itu sebenarnya nggak benar-benar mau hal yang mereka bilang ingin mereka dapatkan. Karena jauh lebih enak membayangkan diri sendiri ketika SUDAH berhasil, dibandingkan menjalani proses yang sulit untuk secara nyata mendapatkannya. Berfantasi itu nyaman. Kenyataan itu nggak.
Ini alasannya kenapa seseorang bisa menghabiskan waktu berjam-jam menonton konten motivasi tapi nggak pernah mulai apa-apa. Menonton orang lain yang berhasil itu memberikan perasaan “saya juga bisa” tanpa harus melakukannya. Bayangan tentang hasilnya itu menyenangkan. Kenyataan tentang prosesnya nggak,
Coba kamu ingat-ingat lagi. Sudah berapa kali kamu membayangkan dirimu ketika sudah punya badan yang bagus, bisnis yang berjalan lancar, hidup di luar negeri, jago di bidang tertentu? Dan berapa kali kamu benar-benar bergerak mengambil langkah pertama untuk mendapatkannya? Ini sudah cukup menjawab masalah di hidupmu.
Berfantasi itu nyaman. Sedangkan kenyataan itu butuh effort, waktu, ketidaknyamanan, dan kemungkinan gagal. Jadi orang lebih memilih untuk tetap di fantasi. Lebih aman di sana.
Saya ulangi lagi. Hidup itu nggak akan selamanya mudah. Hidup itu nggak akan selamanya nyaman. Kamu nggak selalu punya kemewahan dimana kamu bisa menghindari hal-hal yang susah. Di satu titik nanti, kamu pasti mengalami penderitaan. Entah itu krisis keuangan, masalah kesehatan, kehilangan seseorang, mentok di karir, atau hal lain yang memaksamu untuk berjuang. Hidup memang bekerja seperti ini. Orang yang super kaya sekalipun nggak kebal dari ini.
Dan ketika momen itu datang, kamu harus siap menghadapinya. Kalau otot mentalmu sudah terlanjur mengecil selama karena selama bertahun-tahun nggak pernah kamu latih, kamu akan hancur dari tekanan-tekanan ini yang mungkin bagi orang lain yang mentalnya terlatih dia anggap biasa-biasa saja.
Ini bukan soal sengaja menyiksa diri
Saya nggak mau kamu berpikir kalau tulisan saya di atas itu menyiratkan pesan bahwa saya ingin kamu harus hidup menderita, bukan itu poinnya.
Poinnya adalah, kamu harus melakukan voluntary hardship.
Voluntary hardship itu berbeda dengan hidup menderita tanpa ada arah. Trauma itu nggak otomatis membuat kamu lebih kuat. Seringnya, penderitaan tanpa tujuan itu nggak membangun karakter sama sekali. Malah merusak.
Maksud saya adalah : Struggle with purpose. Kamu memilih tantangan yang mendorong kamu, bukan yang menghukum kamu.
Ada titik sweet spot-nya. Kalau terlalu mudah, kamu nggak akan berkembang. Dan kalau terlalu susah, kamu akan burnout atau malah trauma. Titik kesulitan yang paling ideal adalah ketika kamu bisa berpikir : “Ini berat. Tapi saya bisa menaklukannya kalau saya push hard”.
Dan kalau hidupmu yang sekarang memang sudah lebih mudah dibandingkan kebanyakan orang (kamu punya privilege), justru kamu nggak boleh merasa bersalah. Privilege, kalau digabungkan dengan disiplin, ini bisa jadi keuntungan yang luar biasa besar. Kamu bisa mengambil risiko yang lebih besar karena gagal nggak akan membuat hidupmu hancur. Kamu bisa belajar dengan lebih cepat karena resource-nya ada. Dan kamu bisa lebih sering bereksperimen karena safety net-nya ada.
Kesalahan terbesar yang bisa kamu lakukan di hidupmu adalah menyianyiakan hidup yang sudah serba mudah itu hanya untuk tetap merasa nyaman. Padahal, kamu bisa menggunakan segala kemudahan itu untuk mengambil tantangan yang membuat kamu berkembang.
Rekalibrasi
Bedakan kemudahan yang membantu dan kemudahan yang membuat otakmu buntu
Nggak semua yang memberikan kemudahan itu buruk. GPS bisa membantu kamu navigasi arah. Internet bisa memberikan kamu akses ke pengetahuan yang dulu butuh waktu bertahun-tahun untuk didapatkan. Ini tools yang bisa membantu kamu berproses dan belajar lebih cepat, dan lebih banyak. Ini jenis kemudahan yang nggak boleh kamu eliminasi dari hidupmu.
Tapi ada jenis kemudahan yang lain. Yang benar-benar menghapus effort sama sekali. Pesan makanan setiap hari padahal punya waktu untuk masak. Terlalu bergantung dengan AI untuk mengerjakan semua tugasmu. Nggak pernah mau jalan kaki ke mana-mana. Nggak pernah mau melakukan apapun yang mengharuskan kamu untuk berjuang.
Maksudnya begini, jenis kemudahan seperti ini sebenarnya nggak masalah kalau kamu punya prioritas lain yang jauh lebih penting. Misal, kamu harus handle banyak klien, bisnis lagi chaos, ada deadline menumpuk. Tentu nggak ada masalah kalau kamu pesan makan. Tentu nggak ada masalah kalau kamu minta tolong AI. Justru masuk akal. Karena kamu harus mengalokasikan energimu ke prioritas lain yang nyata. Ada effort di hal lain.
Tapi kalau kamu nggak punya prioritas lain yang mengharuskan kamu mengeluarkan effort, dan kamu selalu memilih opsi yang paling mudah untuk semua hal? Di situlah kemudahan menjadi malapetaka. Setiap kali kamu memilih sesuatu yang sama sekali nggak membutuhkan effort, padahal sebenarnya kamu bisa mengeluarkan effort, kamu sedang memberitahukan ke otakmu kalau effort itu sesuatu yang harus dihindari. Dan ini akan semakin parah seiring berjalannya waktu.
Kalibrasi ulang ekspektasimu terhadap effort dan masalah
Perspektifmu tentang apa yang benar-benar “susah” dan yang “biasa saja” itu sudah rusak. Effort kecil sudah terasa seperti effort besar. Masalah kecil sudah terasa seperti masalah besar. Kamu baru selesai mengerjakan satu tugas ringan, tapi otakmu sudah minta reward.
Untuk memperbaikinya. Kamu harus secara sadar dan sengaja memasukkan tantangan baru ke dalam kehidupan kamu. Dan kamu harus meningkatkan tingkat kesulitannya seiring berjalannya waktu.
Kamu bisa mulai dari yang paling sederhana. Mulai masak sendiri. Olahraga. Belajar hal yang baru yang kamu belum bisa. Jalan kaki ke suatu tempat yang biasanya kamu selalu naik motor. Mengerjakan sesuatu yang mengharuskan kamu untuk fokus lebih dari 15 menit tanpa membuka HP.
Kedengarannya sepele. Iya, memang sepele. Itu poinnya. Kamu sedang membangun ulang standar yang sudah rusak. Kamu mengajari ulang otakmu bahwa effort itu hal yang normal, bukan sesuatu yang harus dihindari atau diapresiasi setiap saat.
Bangun ketangguhan di lima area
Fisik.
Cari aktivitas fisik yang memungkinkan kamu untuk tracking progress. Angkat beban, lari, renang. Apapun itu. Ini bukan soal membentuk fisik yang estetik. Ini adalah soal melatih otakmu untuk push dan bisa bertahan setiap kali kamu ingin berhenti. Karena konsistensi jauh lebih penting daripada intensitas. 30 menit setiap hari jauh lebih baik daripada 3 jam tapi seminggu sekali.
Otak.
Setiap tiga sampai enam bulan sekali, belajarlah tentang sesuatu yang kamu benar-benar nggak bisa. Bukan upgrade skill yang sudah kamu bisa. Tapi belajar skill baru yang memaksa kamu jadi pemula lagi.
Ini melatih kamu untuk tetap humble dan meningkatkan toleransimu terhadap kegagalan.
Sosial.
Tempatkan dirimu di ruangan dimana kamu yang paling bodoh. Egomu mungkin bakal sakit. Tapi memang itu tujuannya. Kamu harus bisa mendapatkan feedback yang jujur, bukan validasi atas dirimu yang sebenarnya masih nggak tau apa-apa.
Kamu harus berani memulai percakapan yang membuatmu nggak nyaman. Belajar bernegosiasi, belajar untuk konfrontasi, dan belajar bilang nggak.
Finansial.
Investasi waktu dan uang di hal yang hasilnya nggak langsung kelihatan. Bisnis baru. Produk baru. Market baru. Mencoba dengan sengaja mengalokasikan budget untuk eksperimen yang mungkin akan gagal. Membiasakan hidup di bawah kemampuan finansialmu. Bukan karena pelit, tapi supaya kamu nggak kaget ketika hal yang buruk terjadi di masa depan.
Mental.
Kerjakan hal yang paling susah atau yang paling kamu hindari untuk kamu kerjakan di pagi hari. Sebelum buka HP. Sebelum scroll. Sebelum melakukan apapun yang nyaman. Coba journaling lima menit dan jawab pertanyaan ini: “Apa yang berpotensi untuk saya hindari hari ini? Dan kenapa?” Ini akan membangun awareness kapan kamu sedang lari dari friksi atau tantangan.
Atur juga deadline yang agresif untuk dirimu sendiri. Deadline menciptakan tekanan. Tekanan menciptakan fokus.
Yang sering salah
Kerja keras tanpa arah yang jelas. Mengeluarkan effort besar tapi nggak jelas untuk apa. Itu bukan voluntary hardship. Itu wheel of death. Kamu menderita tapi nggak ke mana-mana. Stuck dan susah di tempat.
Romantisasi penderitaan. “Saya harus hidup susah supaya terlihat paling kuat.” Nggak. Kamu itu harusnya di-challenge, bukan terlihat paling tersiksa.
Membandingkan kesulitanmu dengan orang lain. Ini sama sekali nggak relevan. Ukurannya cuma satu: apakah ini membuat saya berkembang atau nggak.
Intinya begini.
Hidup yang serba mudah itu memang enak. Nggak ada stress. Nggak ada masalah. Nggak harus repot. Tapi akan membuat kamu nggak siap menghadapi masalah besar di masa depan.
Kamu nggak bisa memilih kapan hal-hal yang susah akan terjadi di hidupmu. Tapi kamu bisa memilih apakah kamu siap menghadapinya.
Pertanyaannya bukan apakah kamu mau hidup yang mudah atau hidup yang susah. Pertanyaannya adalah: ketika kamu berhadapan dengan kesulitan, dan ini pasti terjadi di masa depan, kamu bakal bagaimana?
Orang yang langsung lari ketika harus berhadapan dengan tantangan, padahal cuma tantangan kecil, adalah orang yang nggak bakal selamat.
Sedangkan orang yang sudah sering menghadapi kesulitan, tantangan, masalah yang secara sengaja dia ambil dan dia selesaikan. Dia pasti bisa selamat dengan mudah.
Ini bukan tentang disiplin. Bukan juga soal kerja keras. Ini tentang siap atau tidak.
Dan ini dimulai dari fakta kalau: hidup kamu yang sekarang itu terlalu mudah. Dan itu masalahnya.
Related
Pillar: [[Bisnis Sentrifugal]] Pipeline: [[content-pipeline]] Database: [[Newsletter Database]]