Dulu, saya pernah membuat satu keputusan besar yang yang ternyata salah. Saya nggak akan cerita tentang detailnya, tapi intinya, saya menanggung konsekuensi berat yang membuat saya trauma selama bertahun-tahun. Dan yang paling berat itu sebenarnya bukan kesalahannya. Tapi hal yang terjadi setelahnya.
Saya jadi nggak percaya dengan diri sendiri.
Saya selalu merasa tersiksa ketika harus mengambil keputusan. Entah itu keputusan besar atau kecil. Saya selalu overthinking. Selalu ragu dengan kemampuan diri sendiri. Dan ketika saya nggak yakin dan nggak bisa menemukan jawabannya, saya mencari jawaban di “luar”. Nonton youtube. Tanya teman. Tanya orang tua. Tanya siapapun yang bisa bantu ngasih tau saya harus ngapain supaya saya nggak merasa bersalah ketika memutuskan dan ternyata salah.
Hasilnya? Semakin banyak orang yang saya tanyai, bukannya semakin yakin, saya malah menjadi semakin bingung. Ada yang sarannya menentang. Ada yang malah menjudge saya karena dianggap aneh. Bukannya dapat jawaban, saya malah jadi semakin ragu.
Untuk waktu yang lama, saya selalu kesulitan dalam mengambil keputusan sampai akhirnya saya sadar kalau : nggak ada orang yang benar-benar tulus membantu mengambil keputusan untuk saya, tanpa mempertimbangkan keuntungan yang bisa mereka dapatkan. Kedengarannya agak jahat. Tapi memang ini yang terjadi. Kenapa? Karena mereka sedang membantu orang lain memutuskan sesuatu yang nggak ada hubungannya dengan hidup mereka. Ini hidup saya, bukan hidup mereka.
Kenapa sulit sekali mengambil keputusan yang benar
Mengambil keputusan itu sangat melelahkan. Dan saya nggak bilang ini dengan makna kiasan. Mengambil keputusan itu benar-benar melelahkan dan menguras energi. Otak kita harus berpikir keras sebelum membuat keputusan akhir.
Ini alasan kenapa CEO dan pemimpin-pemimpin perusahaan besar bisa dibayar sangat tinggi. Bukan karena mereka yang paling pintar di perusahaan. Tapi karena mereka menanggung beban yang sangat berat untuk memastikan agar seluruh organisasi bisa bergerak ke arah yang benar. Satu saja keputusan bodoh bisa membuat perusahaan runtuh. Dan saya percaya banyak orang yang sudah melihat seberapa banyak perusahaan yang bangkrut karena pucuk pimpinannya bodoh.
Sekarang, coba bayangkan kamu adalah seorang CEO. CEO atas hidupmu sendiri. Setiap keputusan besar yang kamu ambil, entah itu tentang karir, jodoh, keuangan, kesehatan, semua itu menentukan arah dari hal-hal yang akan kamu dapatkan dan alami di masa depan. Dan bedanya dengan perusahaan adalah, kamu nggak bisa mempekerjakan orang lain untuk membantu kamu mengambil keputusan.
Nggak mudah bukan?
Ini yang membuat kita kesulitan. Di era modern saat ini, kamu diberikan banyak sekali pilihan. Puluhan tahun yang lalu, masa depan dan jalan hidup seseorang itu sudah bisa ditentukan berdasarkan tempat lahirnya atau pekerjaan orang tuanya.
Sekarang? Sekarang kamu bisa memilih untuk jadi apapun, pergi kemanapun kamu mau, mencoba apapun yang ingin kamu coba.
Kedengarannya kayak lebih bebas memang, sampai kamu sadar kalau lebih banyak pilihan itu artinya kamu harus mengambil lebih banyak keputusan, dan semakin banyak keputusan yang harus diambil artinya semakin besar peluangmu untuk mengambil yang salah.
Belum lagi ditambah pengalaman buruk ketika mengambil keputusan yang salah di masa lalu. Satu atau dua keputusan salah yang membuat kamu trauma. Dan setiap keputusan yang harus kamu ambil di masa depan mengingatkan kamu dengan trauma di masa lalu.
Jadi akhirnya kamu stuck. Akhirnya kamu tunda. Kamu coba tanya ke orang-orang di sekitarmu. Atau yang lebih parah, kamu mungkin membiarkan orang lain untuk mengambil keputusan untukmu, karena terasa lebih aman daripada harus salah lagi.
Kamu nggak bisa melakukan ini selamanya. Orang-orang terdekatmu itu nggak akan selalu ada untukmu. Orang tuamu akan semakin tua. Teman-temanmu akan punya urusan pentingnya masing-masing. Mungkin saja kamu bisa beruntung dapat pasangan hidup yang pintar dalam mengambil keputusan, tapi tetap saja nggak ada yang bisa menjamin. Di satu titik, kamu harus bisa melakukannya sendiri.
Bisa mengambil keputusan itu bukan cuma life skill, tapi bagian penting dari menjadi orang dewasa.
Cara mengambil keputusan yang nggak akan kamu sesali
Saya nggak mau sok-sokan bilang kalau saya sudah paham cara pasti untuk mengambil keputusan dengan akurasi 100%. Saya pun terkadang masih kesulitan. Tapi ada beberapa prinsip yang membuat prosesnya jadi lebih ringan dan hasilnya jadi nggak terlalu disesali kalau salah.
1. Kalau nggak bisa memutuskan, jawabannya adalah tidak.
Di dunia yang sekarang pilihannya seperti nggak ada batasnya, kamu cuma bisa bilang iya ke hal-hal yang benar-benar kamu yakini. Nggak harus 100% yakin, karena nggak ada yang bisa menjamin keberhasilannya 100%. Tapi minimal harus ada gambaran tentang apa dan kenapa harus kamu hadapi.
Keputusan yang besar itu membutuhkan waktu yang lama sebelum hasilnya kelihatan. Memulai bisnis itu butuh waktu bertahun-tahun. Menikah itu wajarnya untuk seumur hidup. Kuliah itu empat sampai lima tahun. Mengambil hutang untuk beli rumah itu bayar bunganya bisa sampai belasan tahun. Jadi standar untuk kamu bisa bilang “iya” itu harus tinggi.
Sebelum bilang iya ke sesuatu yang efeknya besar, saya selalu tanyakan ini ke diri saya sendiri : Kenapa saya mau ini? Bagaimana cara realistisnya untuk saya bisa berhasil mendapatkan ini? Apakah ada alternatif lain? Apa saja yang sudah saya ketahui tentang masing-masing alternatif? Apakah ini realistis?
Kalau saya masih belum bisa menjawab semua pertanyaan ini, saya nggak akan berani mengambil keputusan.
Masuk ke dalam keputusan yang kamu sendiri nggak paham detil-detilnya itu seperti masuk ke gua yang gelap. Nggak bisa lihat apa yang didalam dan dimana jalan keluarnya.
Kalau sudah terlanjur mengambil keputusan, kamu mungkin bisa belajar di perjalanannya. Tapi seringnya keputusan besar yang krusial itu diambil tanpa ada dasar pemahaman terlebih dahulu. Seringnya karena FOMO.
2. Timbang risk dan benefit, bukan pro dan kontra.
Ketika kamu dihadapkan dengan dua pilihan yang kelihatannya sama baiknya, yang benar-benar 50:50, ambil yang bakal membuat kamu susah dalam jangka pendek, tapi memberikan reward yang besar dalam jangka panjang.
“Hard choices, easy life. Easy choices, hard life.”
Otak manusia itu alaminya selalu ingin kenyamanan dan keamanan. Ini adalah bagian dari proses evolusi manusia. Jadi tanpa kamu sadari, kamu pasti akan selalu condong ke pilihan yang terlihat lebih mudah dalam jangka pendek. Tapi yang kelihatannya gampang sekarang seringnya nanti membuat kita susah di masa depan. Dan yang kelihatannya susah sekarang, seringnya malah jadi lebih gampang di masa depan.
Sederhananya, kalau benefitnya lebih kecil dibandingkan risikonya, jangan kamu ambil. Dan kalau kamu juga masih belum siap menanggung risiko yang besar meskipun benefitnya lebih besar, jangan ambil juga. Kamu harus lebih strategis dalam memilih risiko seperti apa yang bisa kamu hadapi. Ini bukan berarti kamu pengecut. Ini bukti kecerdasan mental.
Saya sendiri akhirnya memilih jalan yang lebih susah di hidup saya. Apa sudah kelihatan hasilnya? Belum sepenuhnya. Tapi sudah ada hasil hasil kecilnya. Setiap hari, saya punya gambaran jelas bagaimana caranya supaya saya bisa mendapatkan hasil yang besar di masa depan. Saya sudah tahu langkah-langkahnya.
Jauh berbeda dengan beberapa tahun lalu ketika saya masih takut mengambil keputusan sendiri dan nggak tau harus ngapain.
3. Buat pilihan yang membuat batinmu tenang.
Ini sangat penting untuk keputusan yang melibatkan orang lain di dalamnya. Seperti apa yang harus kamu katakan ke orang lain. Apa kamu harus tinggal atau pergi dari orang tersebut. Bagaimana caranya menghadapi konflik dengan orang.
Ketika kamu dihadapkan dengan keputusan yang melibatkan orang lain, pilih yang bisa membuat batinmu tenang untuk jangka waktu yang lama. Bukan yang kelihatannya paling gampang untuk diambil.
Dulu saya pernah harus memilih antara pulang ke Indonesia atau tetap tinggal di luar negeri setelah saya menyelesaikan S2. Pilih antara kesempatan berkarir di tempat yang menjanjikan penghasilan lebih besar, atau pulang ke Indonesia karena orang tua nggak mau kalau saya harus meninggalkan mereka lebih lama. Dan akhirnya saya memilih untuk pulang. Bukan karena saya takut. Tapi karena saya tau, kalau orang tua saya nggak tenang, saya juga nggak akan pernah bisa tenang. Gaji sebesar apapun nggak bisa menggantikan rasa tenang ketika melihat orang tua senang.
Saya nggak pernah menyesali keputusan itu. Justru saya malah mendapatkan lebih banyak hal di Indonesia dibandingkan ketika saya di luar negeri. Saya jadi lebih mengenal orang tua saya. Saya bisa belajar bisnis. Saya bisa membangun banyak hal yang nggak mungkin bisa saya bangun ketika saya di luar negeri dulu.
Keputusan yang besar itu harus diambil saat kepala kita tenang. Bukan saat kita emosi, terdesak, atau tertekan.
4. Simpan energi untuk keputusan yang benar-benar penting.
Keputusan yang bisa tiba-tiba di-cancel di tengah jalan itu keputusan kecil. Jangan menghabiskan terlalu banyak waktu untuk memutuskan keputusan sepele. Jangan pusing mikirin kamu mau makan apa. Jangan pusing memikirkan merek sabun apa yang harus kamu beli. Jangan sampai kamu nggak bisa tidur gara-gara bingung harus pakai baju apa besok.
Kamu harus menyimpan kapasitas otakmu untuk mengambil keputusan yang benar-benar berpengaruh di hidupmu. Keputusan keuangan. Keputusan tentang hubungan. Komitmen yang nggak gampang untuk dibatalkan.
Memang nggak semua orang bisa langsung melakukannya. Kita itu sudah terbiasa overthinking memikirkan segala hal. Tapi kamu harus belajar untuk bisa mengesampingkan keputusan yang risikonya rendah. Dengan begitu, kamu membebaskan kapasitas otakmu untuk hal-hal yang benar-benar penting.
5. Terkadang, kamu pasti salah. Dan memang sudah seharusnya begitu.
Nggak ada cara atau orang yang bisa menjamin kalau kamu bakal selalu benar. Kamu nggak punya mesin waktu. Kamu nggak bisa melihat masa depan.
Setiap keputusan itu 50:50. Ada yang berhasil. Ada yang nggak. Meskipun nanti kamu bisa meningkatkan oddsnya, kamu nggak akan bisa menjamin keberhasilannya. Ada kalanya kamu akan salah. Tapi setiap keputusan yang salah itu mengajarkan kamu lebih banyak hal dibandingkan kalau kamu selalu benar.
Satu keputusan yang tepat itu bisa didapatkan akibat dari pengalaman membuat 10 keputusan yang salah. Salah itu bukan berarti gagal. Itu biaya belajar.
Kalau kamu masih muda, kamu pasti belum punya banyak pengalaman. Dan satu-satunya cara untuk mendapatkan experience adalah ketika kamu mengambil keputusan, termasuk yang salah. Prinsip-prinsip di atas itu cuma akan membantu kamu meminimalisir rasa sesal yang kamu dapat kalau kamu ternyata salah. Tapi nggak akan bisa sepenuhnya menghilangkan penyesalan. Nggak ada yang bisa.
Yang bisa kamu lakukan adalah memastikan bahwa meskipun kamu salah, kamu bisa mengambil pelajarannya dan membuat keputusan yang berbeda di masa depan.
Mengambil keputusan itu skill. Dan kayak skill lainnya, harus dilatih.
Nggak ada orang yang bisa membantumu membuat keputusan selamanya. Ini tanggung jawab yang harus kamu ambil sendiri. Memang nggak mudah, tapi ini memang bagian penting dari menjadi orang dewasa.
Keputusan yang buruk itu bisa diperbaiki. Selalu ada pelajaran yang bisa diambil. Pasti ada jalan lain yang bisa ditempuh.
Tapi waktu yang hilang karena terlalu takut untuk memutuskan? Nggak akan pernah kembali.
— Galih Cakra, Sentrifugal
Related
Pillar: [[Bisnis Sentrifugal]] Pipeline: [[content-pipeline]] Database: [[Newsletter Database]]