Umur saya sekarang 32 tahun. Belum terlalu tua, tapi nggak lagi muda. Dan saya sudah merasakan berbagai macam pertemanan. Entah itu yang baik atau yang buruk.
Selama ini, saya pikir solusi untuk bisa keluar dari circle pertemanan yang buruk itu simple : Ya tinggalin aja. Pergi. Cari circle baru yang lebih baik. Selesai.
Saya pikir caranya sesederhana ini.
Sampai tiba-tiba ada orang yang tanya ke saya dan membuat saya mikir agak lama : “Mas, gimana sih caranya supaya kita keluar dari lingkungan yang toxic kalau orang-orang tersebut adalah satu-satunya yang kita kenal?”
Dan saya sadar. Ternyata, buat banyak orang, solusinya nggak sesimpel itu.
Saya punya teman-teman yang umurnya jauh di atas saya. Sepuluh, atau bahkan lima belas tahun lebih tua. Harusnya mereka lebih bijak kan? Lebih berpengalaman. Lebih paham hidup.
Tapi kenyataannya banyak dari mereka yang bangkrut karena hal sepele. Ada yang pisah sama keluarganya. Ada yang kecanduan judi online. Bahkan salah satu dari mereka pernah minta pinjam uang ke saya 120 juta. Seratus dua puluh juta. Uang yang susah payah saya cari. Uang yang saya nggak rela untuk “hilang” begitu saja.
Peribahasa “orang yang lebih tua lebih bijak” itu nggak berlaku di hidup saya. Manusia itu sama saja, berapapun umurnya. Yang membedakan cuma satu: mindset. Dan mindset itu dibentuk oleh lingkungan.
Sebelum saya lanjut, saya mau bilang satu hal. Jangan terima omongan saya secara mentah-mentah. Saya ini cuma orang asing di internet. Saya cuma ingin membagikan pengalaman hidup, bukan meresepkan formula ajaib. Cuma kamu yang bisa mengontrol hidupmu sendiri. Harus selalu begitu.
Tapi ini adalah sesuatu yang saya harap ada orang yang bisa ngajarin ke saya ketika saya lebih muda dulu.
Lingkunganmu menciptakan siapa dirimu
Nggak ada orang yang terlahir jadi penjahat. Nggak ada orang yang datang ke dunia ini dengan niatan untuk “menghancurkan” hidupnya sendiri. Kita dibentuk oleh orang-orang di sekitar kita, dari kebiasaan yang kita amati, dan standar sosial yang kita anggap normal.
Orang bilang kemiskinan itu sumber kejahatan. Tapi kenapa nggak semua orang miskin jadi penjahat? Dan kenapa malah ada banyak orang yang terdidik dan kaya yang menjadi koruptor? Karena dari dulu ini bukan masalah uang. Ini selalu tentang lingkungan. Orang-orangnya. Normanya. Aturan yang nggak tertulis dari circle yang kita masuki.
Hubungan kita dengan orang lain adalah faktor terbesar yang memengaruhi masa depan kita. Kalau saat ini kamu berada di lingkungan yang nggak mendorong kamu untuk berkembang, kamu sudah pasti nggak akan berkembang.
Ini bukan quotes motivasi. Ini kenyataan.
Dua jenis hubungan yang paling berarti
Nggak semua hubungan punya fungsi dan peran yang sama. Dari pengalaman saya, cuma ada dua jenis yang benar-benar berarti:
Yang selalu ada untuk kamu di segala kondisi. Teman dekat. Orang-orang yang muncul waktu hidup lagi susah, bukan cuma waktu lagi senang dan seru-serunya.
Dan yang membuat kamu berkembang. Kenalan baru. Orang yang menantang cara berpikirmu, yang membuka perspektifmu menjadi lebih luas, dan yang mendorong kamu ke area yang nggak nyaman supaya kamu bisa berkembang.
Kamu nggak akan bisa hidup sendirian. Ini fakta. Tapi kamu bisa memilih siapa yang kamu izinkan masuk ke dalam hidupmu. Dan kebanyakan orang nggak pernah sadar kalau pilihan ini sangat memengaruhi masa depan mereka.
Orang-orang yang harus kamu hindari
Saya mau spesifik di sini. Ini bukan kategori yang abstrak. Ini adalah pola-pola yang saya lihat yang sudah menghancurkan hidup orang, termasuk orang-orang yang dekat dengan saya.
1. Orang yang nggak bertanggung jawab atas perbuatannya.
Mereka berbuat salah dan menyalahkan semua orang kecuali dirinya sendiri. Nggak punya moral. Nggak punya prinsip yang benar-benar dipegang. Mungkin bisa saja mereka jadi teman yang asyik. Seru untuk diajak nongkrong. Selalu bisa membuat suasana menjadi hidup.
Tapi setiap aksi akan selalu punya konsekuensi. Dan orang yang nggak punya tanggung jawab itu pada akhirnya akan menyeret kamu ke dalam konsekuensi yang harusnya mereka tanggung sendiri.
Kamu nggak bisa membela orang yang meninggalkan anak dan istrinya untuk foya-foya kan? Nongkrong seru sama orang ini di malam Jumat nggak bakal bisa menjustifikasi perilaku dia.
2. Orang yang cuma datang waktu butuh sesuatu.
Setiap hubungan yang sehat harus punya semacam timbal balik. Bukan transaksional, tapi mutual. Dua-duanya harus saling memberikan value. Dua-duanya hadir.
Kalau kamu terus-menerus memberikan dan mereka nggak pernah membalas apapun, bahkan nggak ada dukungan yang kecil saja waktu kamu yang butuh, itu bukan pertemanan. Itu customer service. Dan kamu menyediakannya secara gratis.
3. Orang yang nggak pernah menantang kamu untuk berkembang.
Mereka nggak punya ambisi. Nggak punya keinginan untuk mengembangkan diri mereka. Nggak punya rasa penasaran tentang apa yang harusnya bisa mereka capai. Mereka selalu berada di kondisi yang nyaman. Dan mereka mau kamu untuk ikut nyaman juga.
Bukan karena mereka peduli sama kamu. Tapi karena pertumbuhanmu mengancam kenyamanan mereka.
4. Orang yang selalu berkompetisi dengan kamu.
Mereka nggak pernah melihat kamu sebagai teman. Mereka melihat kamu sebagai tolak ukur. Kamu beli mobil, mereka harus beli juga. Kamu naik jabatan, mereka harus bisa lebih. Kamu sudah punya anak 1, mereka harus punya anak 2. Nggak ada habisnya. Ini riil.
Mereka akan menyeret kamu ke kompetisi yang nggak ada gunanya. Kompetisi yang akan menguras mental dan keuanganmu. Saling kejar-kejaran dengan orang yang juga sedang mengejar kamu, ini perlombaan yang nggak bakal ada pemenangnya.
5. Orang yang secara aktif menghambat kamu.
Mereka nggak ingin kamu berkembang. Mereka ingin kamu tetap di tempat yang sama. Di level yang sama. Di hidup yang sama. Dengan keterbatasan yang sama.
Mereka “menilai” setiap langkah yang kamu ambil. Mengkritik tanpa menawarkan sesuatu yang membangun. Membuat kamu merasa kecil, bukan karena kamu memang kecil, tapi karena pertumbuhanmu membuat mereka nggak nyaman dengan pilihan hidup mereka sendiri.
Yang secara alami merusak
Di luar lima tipe itu, ada orang-orang yang perilakunya memang pada dasarnya toxic.
Orang yang menghasut kamu ke aktivitas negatif. Orang yang egoisnya sudah di luar batas. Orang yang suka menggosipkan semua orang, termasuk kamu waktu kamu nggak ada. Orang yang berbohong semudah mereka bernafas. Orang yang memanipulasi kamu untuk bisa mendapatkan apa yang mereka mau.
Kamu mungkin sudah tau siapa saja orang-orang ini di dalam hidupmu. Hanya saja kamu masih bersikeras mencari alasan supaya nggak ninggalin mereka.
Cara melindungi diri
1. Jadilah seorang pengamat.
Amati apa yang orang lain lakukan, bukan apa yang mereka katakan. Ngomong itu mudah. Sementara perilaku nggak akan pernah bohong. Kalau seseorang secara konsisten menunjukkan perilaku yang merugikan, nggak peduli berapa kali mereka minta maaf atau menjelaskan, percaya polanya, bukan janjinya.
2. Berpikir secara independen.
Jangan pernah percaya apapun secara buta. Baik itu ke teman, keluarga, ataupun ke saya. Berpikir kritis. Pertanyakan setiap tindakan tanpa harus menjadi judgmental. Bentuk kesimpulanmu sendiri berdasarkan apa yang kamu amati, bukan apa yang orang lain suruh untuk kamu percayai.
Momen di saat kamu benar-benar berhenti membiarkan orang lain berpikir untukmu, adalah momen dimana kamu mulai bisa mengambil keputusan yang benar-benar untuk kebaikan dirimu sendiri.
3. Membentuk visi pribadi.
Ini yang paling penting. Kalau kamu nggak punya visi di hidupmu, orang lain yang akan memberikan visi untukmu. Dan visi yang mereka berikan, sudah pasti akan selalu melayani kepentingan mereka, bukan untuk kepentinganmu.
Coba tanya ke dirimu sendiri: apakah orang-orang di sekitarku sejalan dengan arah yang ingin aku tuju? Apakah mereka akan membantuku untuk bisa sampai di sana, atau justru menarik aku ke arah yang berlawanan?
Kalau jawabannya yang kedua, kamu sudah tau apa yang harus kamu lakukan.
Pertanyaan yang paling sulit
Sampai sini, saya mau minta kamu melakukan sesuatu yang mungkin nggak nyaman buat kamu.
Coba baca ulang setiap tipe orang yang baru saja saya jelaskan. Yang nggak bertanggung jawab. Yang cuma datang saat butuh. Yang menghambat orang lain. Yang berkompetisi alih-alih mendukung.
Dan tanya ke diri sendiri dengan jujur: apakah bagi orang lain, aku sendiri adalah salah satu dari orang-orang itu?
Karena terkadang, orang yang perlu kamu hindari itu… adalah versi dirimu selama ini.
Dan kadang, cara terbaik untuk menjadi teman yang baik adalah dengan melepaskan dulu versi dirimu yang dulu.
Saya nggak meninggalkan circle lama saya karena benci dengan mereka. Saya pergi karena saya ngeliat teman-teman saya yang lebih tua. Bangkrut. Pisah sama keluarga. Kecanduan judi. Dan saya sadar: saya bisa jadi seperti ini kalau saya tetap di tempat yang sama.
Einstein pernah bilang: “Hanya orang gila yang mengharapkan perubahan tapi masih melakukan hal yang sama.”
Saya harus bisa mengambil kendali atas hidup saya sendiri. Saran-saran yang saya dapatkan dari orang-orang di sekitar saya itu nggak ada yang benar. Nggak ada yang menghasilkan apa-apa. Nggak bikin saya bertumbuh. Nggak bikin kemajuan sama sekali. Benar-benar kerusakan yang disamarkan dengan label pertemanan.
Jadi saya pergi. Nggak secara dramatis seperti di film-film. Nggak juga dengan marah-marah. Saya cuma mulai jarang muncul. Saya mulai menghabiskan waktu dengan orang yang berbeda. Mulai membangun hidup di lingkungan yang nggak akan dikenali oleh circle lama saya.
Dan kalau boleh jujur? Beberapa dari mereka bahkan nggak sadar kalau saya sudah nggak ada.
Ini saja sudah cukup memberitahu saya segalanya.
Kamu mengontrol hidupmu sendiri. Pilih lingkunganmu dengan sadar. Karena kalau kamu nggak memilihnya, lingkungan itu yang akan memilih kamu.
— Galih Cakra, Sentrifugal
Related
Pillar: [[Bisnis Sentrifugal]] Pipeline: [[content-pipeline]] Database: [[Newsletter Database]]