Beban terberat yang kamu bawa pulang setiap hari itu bukan beban kerjaan. Bukan tugas yang menumpuk. Bukan tekanan dari orang lain. Bukan.
Tapi setiap janji untuk “bergerak” yang sudah kamu buat tapi nggak pernah kamu tepati.
Setiap “mulai senin nanti” yang nggak pernah dimulai. Setiap rencana yang kamu tulis di jam 2 pagi, tapi besok paginya lupa. Setiap skill yang katanya mau dipelajari, kebiasaan yang katanya mau dibangun, hal kecil yang katanya mau diselesaikan. Semuanya masih numpuk. Nggak disentuh. Numpuk sedikit demi sedikit di kepala.
Mungkin kamu nggak pernah bener-bener mikirin itu semua. Tapi otakmu iya. Otakmu itu selalu membuka satu tab baru untuk setiap janji yang kamu buat. Dan semakin banyak tab yang terbuka, beban memorinya semakin berat. Ini yang bikin kamu sudah capek duluan setiap kali bangun pagi, padahal tidurmu cukup. Ngerasa badan berat padahal gak ngerjain kerjaan fisik. Nggak pernah bisa santai di akhir pekan padahal memang nggak ada yang harus dikerjain.
Ini bukan burnout karena terlalu banyak pekerjaan. Ini adalah akibat dari membawa urusan yang nggak pernah selesai ke mana-mana.
Ini bukan soal kamu malas. Bukan itu intinya.
Yang saya omongin itu jenis capek yang spesifik : capek karena nggak ngerjain hal-hal yang mendekatkan kamu ke kehidupan yang kamu mau.
Bukan tugas kantor. Bukan urusan rumah tangga. Tapi hal-hal yang penting untuk kamu secara pribadi. Tujuanmu. Ambisimu. Versi terhebat dirimu yang selalu kamu bayangin tapi gak pernah terealisasi.
Pengen punya badan bagus tapi nggak pernah mulai olahraga. Pengen punya skill baru tapi nggak pernah buka kursusnya. Pengen nabung tapi pengeluaran lebih banyak dari pemasukan. Pengen mencapai suatu hal tapi malah cuma nonton orang lain yang udah berhasil mencapainya.
Ini bukan kegagalan yang terlihat bikin hidup kamu hancur. Ini kegagalan yang terjadi di kepalamu. Yang nggak bisa dilihat orang lain kecuali dirimu sendiri. Dan menumpuk secara perlahan, yang susah untuk dijelasin ke orang lain yang nggak pernah ngalamin. Bebannya mungkin ringan, tapi selalu ada, ngikutin kamu setiap hari, bahkan di hari-hari yang sebetulnya baik-baik aja.
Jeff Bezos pernah bilang : “Stress primarily comes from not taking action over something that you can have some control over.”
Stress dan cemas itu bukan dari terlalu banyak kerjaan. Tapi dari tau apa yang harus dilakuin, punya kemampuan untuk melakukannya, tapi memilih untuk nggak melakukannya.
Ini jenis stress yang sangat spesifik, dan kebanyakan orang merasakannya setiap hari tapi nggak pernah menyadarinya.
Kebohongan yang selalu diucapkan ke diri sendiri
“Aku istirahat dulu, capek, masih ada banyak waktu”
Ada perbedaan antara capek dan menghindar, dan seringnya tertukar.
Capek artinya kamu sudah mengeluarkan energi untuk sesuatu. Kamu kerja. Kamu bergerak. Kamu menghasilkan sesuatu. Tubuh dan pikiran butuh recovery, jadi kamu istirahat, dan istirahatnya beneran efektif. Kamu nanti kembali dengan energi yang sudah terisi.
Menghindar itu kelihatannya sama persis dari luar. Kamu di kursi, atau di kasur. Buka hape. Scrolling. Nyantai. Kelihatannya memang kayak istirahat. Tapi bukan.
Istirahat yang beneran istirahat itu cuma bisa terjadi kalau nggak ada yang mengganjal di pikiranmu.
Tapi, kalau kamu istirahat karena menghindari sesuatu yang kamu tau seharusnya kamu kerjain, otakmu itu masih aktif membuka tab baru, “ram”nya masih bekerja. Ada proses yang terus berjalan di belakang layar. Rasa bersalah. Cemas. Menyalahkan diri sendiri. Semua itu tetap nyala, meskipun kamu lagi scrolling hape atau sekedar rebahan di atas kasur.
Makanya kamu bisa saja nggak ngapa-ngapain di akhir pekan dan rasanya malah lebih stressful dibandingkan setelah selesai kerja 12 jam.
Orang itu bisa capek secara fisik tapi isi kepalanya jernih. Dia tau kalau dia udah ngerjain sesuatu. Sudah menyelesaikan sesuatu. Makanya dia layak untuk istirahat.
Kamu? Mungkin kamu saat ini nyaman secara fisik, tapi sesak secara mental.
Kamu itu sebenarnya sudah tau semua ini. Kamu selalu tau.
Dan yang paling bikin kamu stress : kamu nggak bisa ngilagin rasa “tau” itu.
Pertanyaan yang sulit untuk dijawab dengan jujur
Saya tau sebagian orang yang baca ini memang beneran capek dari terlalu banyak pekerjaan. Burnout dari bekerja berlebihan itu nyata. Kerjaan toxic itu nyata. Situasi di mana kamu beneran “udah habis” dan nggak punya sisa energi, itu ada, saya nggak bilang ini palsu.
Tapi buat kebanyakan dari kita, sejujurnya situasinya beda.
Coba jawab ini: kalau besok gaji kamu tiba-tiba naik tiga kali lipat, dengan beban pekerjaan yang sama, dan jam kerja yang sama. Kamu masih bakal ngerasa secapek ini nggak?
Kalau jawabannya nggak, berarti rasa capeknya bukan datang dari pekerjaan. Tapi dari perasaan kalau semua usaha yang kamu keluarkan itu nggak membawa kamu ke mana-mana yang berarti. Kamu ngeluarin energi, tapi bukan untuk hal-hal yang membangun hidup yang kamu mau. Dan kamu harus tau bedanya. Karena ini jauh lebih penting.
Orang yang ngerjain sesuatu yang benar benar dia peduliin, bisa push dirinya sendiri untuk kerja lebih dari 12 jam sehari karena memang dia merasa puas. Sedangkan orang yang ngerjain hal yang nggak dia peduliin selama 8 jam saja bisa ngerasa kayak jiwanya disedot.
Bukan masalah jam kerjanya. Tapi maknanya.
Kamu bisa menghabiskan dua jam belajar skill yang kamu anggap penting, dan kamu bisa ngerasa lebih hidup. Atau memilih untuk scrolling medsos selama dua jam tapi ngerasa kosong.
Waktunya sama, hasilnya berbeda. Yang satu menggerakkan kamu ke depan, yang satunya menarik kamu mundur ke belakang.
Yang sebenarnya terjadi ketika terbiasa “menunda”
Kebanyakan dari kita itu sebetulnya sudah tau apa yang harus kita lakukan.
Kita tau kalau kita harus olahraga. Tau harus belajar skill baru. Tau harus stop beli hal-hal yang nggak penting. Tau harus mulai sesuatu yang sudah bertahun-tahun direncanain. Informasinya itu bukan masalah. Dari dulu bukan itu masalahnya.
Yang sebenarnya menahan kita itu kedengarannya lebih nggak enak dan sulit untuk diakui : mengakui kalau penyebab kenapa kita masih belum mencapai apa-apa itu adalah diri kita sendiri.
Bukan keadaan. Bukan privilege. Bukan timing. Bukan orang lain.
Kita. Pilihan kita. Kebiasaan kita untuk menghindar. Ketakutan kita.
Karena, ketika kamu mau ngakuin ini, kamu akan kehilangan alasan. Kamu nggak bisa lagi bilang “Sebenernya aku mau, tapi …”. Kamu mencari penyebabnya padahal kamu nggak sadar kamu sedang berdiri di depan cermin.
Penyebabnya ada di depan matamu.
Kenyataanya, kamu sudah punya informasi yang cukup. Kamu punya waktu yang cukup. Mungkin saat ini kondisimu nggak ideal atau sedang sulit, tapi sebenarnya sudah cukup untuk mulai. Tapi, masih saja belum mau mulai.
Ini memang sulit diterima. Jadi kebanyakan orang lebih milih nggak nerima. Mereka tetap stuck di siklus yang sama : Rencana, tunda, ngerasa bersalah, cari distraksi, ulang. Karena siklus ini, nggak peduli rasanya semenyakitkan apa, terasa lebih aman daripada beneran mulai dan menghadapi risiko gagal.
Secara perlahan, ada “bom” mematikan yang menumpuk. Menunda-nunda bukan lagi jadi kebiasan, tapi jadi identitas diri. “Emang saya orangnya susah buat disiplin”. “Dari dulu emang kayak gini”. “Ada orang yang bisa, saya emang nggak bisa”.
Ketika sudah menjadi identitas, hampir mustahil untuk keluar. Hampir.
Kenapa motivasi nggak akan pernah menyelamatkanmu
Kamu sebetulnya udah tau kalau motivasi nggak works. Bukan karena belum pernah coba, tapi justru karena udah coba puluhan kali.
Inspirasi random di tengah malam. Resolusi tahun baru. Deklarasi “kali ini beda”. Api semangatnya menyala selama tiga hari, lalu mati. Dan setiap kali mati, memulai lagi jadi sedikit lebih berat, karena otak sudah mencatat ada satu lagi percobaan gagal.
Motivasi itu emosi. Emosi itu by design nggak akan bertahan lama. Kamu nggak akan mau bikin rencana keuangan berdasarkan seberapa senang perasaanmu di suatu momen kan?. Jadi kenapa kamu mau membangun perubahan hidup yang didasari oleh perasaan yang umur simpannya cuma 72 jam?
Yang beneran works itu bukan motivasi, tapi sesuatu yang jauh lebih konkret dan jauh lebih bisa diandalkan: sistem yang menciptakan momentum, dan momentum yang sustain dirinya sendiri.
Langkah 1: Petakan semuanya, urutkan dari yang paling gampang
Tulis semua yang mau kamu capai atau ubah. Semuanya. Ambisi besar atau hal-hal kecil yang selama ini mengganggu karena nggak pernah kamu kerjain. Jangan difilter, dan jangan ada pembagian prioritas dulu. Keluarin aja semuanya dari kepala ke tempat yang bisa dilihat.
Sekarang urutkan. Bukan berdasarkan mana yang paling penting, tapi berdasarkan tingkat kesulitannya. Yang paling gampang diatas, yang paling susah di bawah.
Ini kelihatannya memang salah. Otakmu pasti mikir: “Loh, harusnya yang penting dikerjain duluan dong!” Justru insting inilah yang bikin kamu stuck selama ini.
Cara kerjanya seperti ini: kamu belum percaya sama diri sendiri saat ini. Kamu sudah terlalu sering bikin rencana yang nggak pernah kemana-mana. Otakmu sudah belajar dari pengalaman yang berulang-ulang, bahwa ketika kamu bilang mau ngerjain sesuatu, kemungkinan besar nggak akan dikerjakan. Jadi otakmu bahkan nggak akan mau ngasih energi untuk memulai.
Kamu harus bangun ulang kepercayaan di otakmu dulu sebelum mengerjakan sesuatu yang besar. Dan cara membangun ulang kepercayaan itu sama kayak membangun ulang kepercayaan sama orang lain: aksi kecil yang konsisten, ditepati sampai selesai, berulang kali.
Tujuannya itu bukan selalu mengerjakan yang paling gampang. Tapi membuktikan. Membuktikan bahwa ketika kamu bilang mau ngerjain sesuatu, beneran dikerjain. Otakmu harus bisa ngelihat pola ini dulu sebelum dia mengizinkan kamu mencoba hal yang lebih besar.
Anggap saja kayak latihan. Kamu nggak bakal langsung nyoba olahraga jogging lewat lomba marathon kan?. Mulai dari yang paling ringan. Bangun dulu polanya. Biarkan tubuh kamu beradaptasi. Baru pelan-pelan naikkan. Kedisiplinan dibentuk dengan cara yang sama.
Langkah 2: Selesaikan satu hal hari ini. Bukan cuma mulai. Harus diselesaikan.
Ini sangat penting dan kebanyakan orang salah di sini.
Jangan cuma “mulai” sesuatu. Selesaikan sesuatu. Secara psikologis perbedaannya besar sekali. Memulai sesuatu untuk nanti ditinggalkan di tengah jalan itu cuma nambah satu tab lagi ke otak kamu yang sudah penuh. Tapi, kalau kamu menyelesaikan sesuatu, entah sekecil apapun itu, satu tab akan tertutup.
Pilih yang paling gampang dari list yang sudah kamu tulis sebelumnya. Satu hal yang bisa selesai hari ini. Bukan besok. Hari ini.
Merapikan kamar sendiri. Olahraga 20 menit. Masak sendiri daripada pesan gofood. Balas pesan yang sudah berhari-hari kamu hindari. Menulis 500 kata dari sesuatu yang sudah lama mau kamu tulis. Apapun itu.
Yang paling penting: di malam hari kamu bisa ngeliat satu hal dan bilang, tadi “saya bilang mau ngerjain. Dan udah berhasil saya kerjain.”
Kalimat itu, kalau sering diulang-ulang, bakal ngubah cara kamu melihat dirimu sendiri. Tapi harus dimulai dari satu hal dulu.
Langkah 3: Hasil menciptakan momentum
Ada sesuatu yang terjadi setelah kamu menyelesaikan satu hal kecil itu. Kamu ngerasa lebih ringan. Memang bukan perubahan drastis. Cuma sedikit nggak lebih berat. Rasa bersalah yang muncul dari menunda tiba-tiba hilang, dan sebagai gantinya muncul rasa puas.
Kepuasan dari mendapatkan hasil itu adiktif.
Coba ingat pertama kalinya kamu bisa menghasilkan uang sendiri. Mungkin jumlahnya sedikit saja. Mungkin cuma dari kerja part-time, atau jualan kecil-kecilan, atau freelance. Ingat nggak rasanya? Apa yang kamu mau setelah mendapatkan uang? Kamu mau lagi. Kamu mau lebih banyak lagi.
Hasil -> Menciptakan gaya tarik ke depan.
Itulah kekuatan dari hasil. Ini nggak bakal hilang dalam semalam kayak motivasi. Hasil itu menumpuk. Satu tugas yang selesai, membuat tugas berikutnya terasa lebih memungkinkan untuk diselesaikan. Kemudian kamu jadi lebih percaya diri. Percaya diri bikin kamu berani mencoba hal yang sedikit lebih susah. Dan yang sedikit lebih susah itu, kalau selesai, ngasih kepuasan yang lebih besar lagi.
Tapi, rantai reaksi ini cuma bisa tercipta kalau kamu bisa menciptakan hasil pertama dengan cepat. Kalau kamu mulai dari sesuatu yang terlalu ambisius dan nggak ngeliat hasil selama berminggu-minggu, kamu akan berhenti sebelum momentum sempat terbentuk. Otakmu menganggap nggak adanya hasil itu sebagai sinyal kalau kamu memang nggak bisa, dan siklusnya kembali lagi ke awal.
Mulai dari hasil yang kecil. Didapatkan dengan cepat. Dan biarkan momentum keberhasilan narik kamu ke hal berikutnya.
Ini bukan berarti kamu harus menurunkan standar selamanya dan terus-terusan mengerjakan hal yang mudah. Kalau begitu, kamu akan merasa bosan.
Ini soal menciptakan momentum.
Langkah 4: Jaga momentumnya.
Hasil menciptakan momentum. Momentum menciptakan lebih banyak hasil. Lebih banyak hasil akan membangun ulang kepercayaan ke diri sendiri. Kepercayaan yang lebih kuat bikin kamu bisa ambil tantangan yang lebih berat. Tantangan yang lebih berat menghasilkan hasil yang lebih besar. Dan prosesnya akan menjadi semakin cepat.
Kamu nggak bakal percaya kekuatan dari sebuah momentum. Hal yang dulunya kamu anggap nggak mungkin bisa kamu capai, akhirnya bisa kamu dapatkan. Dengan lebih cepat.
Yang awalnya cuma rapiin kamar, jadi bangun lebih pagi untuk ngerjain sesuatu. Yang awalnya jalan kaki 20 menit setiap sore, jadi rutinitas olahraga yang lebih berat. Yang awalnya nabung kecil-kecilan tiap bulan jadi tabungan yang mengubah hidup.
Di suatu titik nanti di masa depan, dan ini bagian yang susah dipercaya sampai kamu mengalaminya sendiri, dinamika hidupmu berubah total. Kamu nggak lagi harus memaksa menyeret dirimu sendiri untuk bergerak. Hasilnya yang menarik kamu.
Kamu jadi ingin lebih banyak hasil. Yang tadinya kamu lebih memilih hidup yang nyaman, lama-lama jadi ingin lebih banyak tantangan.
Orang-orang yang “disiplin” itu nggak pernah mengandalkan willpower. Mereka terus bergerak mengandalkan momentum yang sudah berhasil mereka bangun. Dari satu hasil kecil di suatu waktu, sampai akhirnya bisa jalan sendiri.
Ini bisa terjadi di hidupmu. Tapi hanya kalau kamu berani untuk memulai. Dan kamu cukup mulai dari yang satu aksi yang kecil yang bisa beneran kamu selesaikan.
Nggak ngapa-ngapain itu memang lebih capek dibandingkan kerja 12 jam.
Bukan karena kamu menganggur, atau malas. Tapi karena kamu membawa beban yang kamu tau bisa mengubah hidup kamu tapi nggak pernah kamu selesaikan. Nggak peduli seberapa lama kamu istirahat, selama kamu belum menyelesaikannya, pikiranmu nggak akan pernah tenang.
Beban itu nggak akan berkurang seiring berjalannya waktu. Justru akan menumpuk menjadi semakin berat. Setiap janji yang kamu buat dan langgar akan menambah bobotnya. Setiap janji “nanti”, atau “besok”, akan menjadi bom waktu yang meledak di masa depan.
Tapi kabar baiknya, jalan keluarnya itu nggak serumit yang kamu kira. Kamu nggak perlu membuat perubahan total di hidupmu. Kamu nggak perlu rencana yang sempurna. Kamu nggak perlu untuk bangun jam 5 pagi setiap hari, terus meditasi, lalu journaling, lalu baca buku, kemudian olahraga, dan semuanya harus selesai sebelum sarapan.
Nggak perlu.
Yang kamu butuhkan itu cuma satu hasil. Satu tab yang ditutup. Satu bukti kecil bahwa kamu bisa melakukan apa yang kamu bilang akan kamu lakukan.
Dari situ. Biarkan hasilnya yang ngerjain sisanya.
— Galih Cakra - Sentrifugal
Related
Pillar: [[Bisnis Sentrifugal]] Pipeline: [[content-pipeline]] Database: [[Newsletter Database]]