Keberuntungan itu skill. Dan nggak ada orang yang mau mempelajari ini.

Kedengarannya aneh. Keberuntungan kan harusnya random. Harusnya ini kan sesuatu yang terjadi ke kamu, bukan sesuatu yang kamu ciptakan. Harusnya hanya ada “kamu beruntung atau kamu enggak”. Ini yang diyakini kebanyakan orang.

Keyakinan seperti ini yang bikin mereka stuck.

Coba ingat lagi salah satu orang di hidupmu yang kelihatannya selalu saja dapat peluang. Selalu dapat kerjaan yang oke. Ketemu orang yang tepat. “Kebetulan” nemuin kesempatan di waktu yang pas. Dan setiap kali kamu ngelihat dia, kelihatannya dunia berpihak ke dia.

Kemungkinan besar kamu bilang : “Enak ya. Beruntung banget dia”

Tapi, kamu hanya melihat momen-momen waktu dia dapat “keberuntungan”. Kamu nggak pernah lihat waktu dia menghabiskan tiga tahun untuk belajar skill tanpa disuruh. Kamu nggak lihat berapa kali dia reach out ke orang-orang dan disepelekan. Berapa kali percobaan gagal yang nggak pernah dia posting. Malam-malam yang dia habiskan untuk meragukan semua pilihan yang dia ambil, dan kamu tiba-tiba bilang dia beruntung.

Yang kamu lihat itu bab 20 di dalam hidupnya. Kamu skip bab 1 - 19.


”Dia emang beruntung”

Setiap kali kamu bilang orang lain beruntung, ada satu hal yang kamu lakukan.

Kamu menutup pintu.

Pintu yang ada tulisan: “Mungkin aku juga sebenarnya bisa, kalau aku mau usaha.”

Karena kalau kesuksesan itu cuma datang dari keberuntungan, berarti nggak ada yang bisa dipelajari dari mereka. Nggak ada yang bisa di-reverse engineer. Nggak ada yang bisa kamu terapkan di hidupmu. Mereka dapet doorprize berhadiah, kamu nggak. Selesai.

Ini kesimpulan yang paling mudah untuk dibuat. Tapi harganya paling mahal.

Karena dengan begitu, kamu menghilangkan alasan untuk harus berusaha lebih keras, belajar lebih banyak, atau mencoba lebih banyak hal. Kalau sukses itu random, ngapain usaha? Dan kalau usaha nggak ada gunanya, kamu bebas dari tanggung jawab. Bisa balik nyantai dan merasa hidup baik-baik saja.

Tapi kenyataannya kamu nggak pernah bisa merasa santai. Kamu iri. Kamu pengen bisa jadi seperti mereka, atau paling nggak dapat sepersepuluh dari pencapaian mereka. Dan rasa iri ini jadi semakin berat setiap kali melihat ada orang lain yang “menang”.


Yang sebenarnya terjadi di kepalamu

Ada pola psikologis yang disebut dengan attribution bias. Cara kerjanya seperti ini:

Ketika hidup kamu berjalan nggak sesuai harapanmu, kamu bakal nyalahin keadaan. “Ekonomi lagi jelek.” “Aku nggak punya koneksi.” “Timing-nya nggak pas.” Pokoknya, semua penyebabnya datang dari faktor eksternal. Dari hal-hal yang di luar kendali kamu.

Tapi ketika orang lain berhasil, kamu membalik narasinya. “Dia emang dari keluarga kaya.” “Dia kenal orang dalam.” “Dia lebih beruntung.” Penyebabnya juga dianggap dari luar. Dari hal yang juga di luar kendali mereka.

Coba perhatikan lagi polanya. Kegagalanmu terjadi bukan karena salahmu. Keberhasilan mereka terjadi bukan karena usaha mereka. Dua standar berbeda untuk kenyataan yang sama.

Ini bukan masalah cacat logika. Ini memang cara kerja otak manusia. Tapi bukan berarti kita membenarkan cara pikir seperti ini. Justru ini salah satu pola pikir yang paling merusak. Karena pola pikir ini melindungimu agar bisa sadar dan mengubah hidupmu.

Coba, sekarang pikirkan kembali :

Mungkin bedanya kamu dan mereka itu bukan soal keberuntungan. Mungkin bedanya adalah apa yang sudah mereka kerjakan di saat kamu sibuk menjelaskan kenapa kamu nggak bisa.


Ember kepiting

Saya yakin banyak dari kalian sudah paham dengan konsep crab mentality.

Kalau kamu menaruh satu kepiting di dalam ember, dia bakal bisa manjat keluar sendiri. Tapi kalau kamu taruh beberapa kepiting ke dalam, nggak ada satupun kepiting yang bisa keluar. Karena setiap kali satu kepiting mulai naik, yang lain menariknya turun.

Bukan karena mereka jahat. Bukan karena ada rencana untuk menjegal. Tapi karena ketika melihat satu kepiting lain naik, instingnya adalah: “Kalau dia berhasil keluar, gimana denganku?”

Riset yang diterbitkan di Frontiers in Psychology menemukan bahwa akar penyebab dari crab mentality itu rendahnya kepercayaan diri. Orang nggak semata-mata menjatuhkan orang lain karena mereka berada di posisi yang lebih kuat. Mereka melakukannya karena takut. Takut kalau keberhasilan orang lain itu menunjukkan kalau mereka nggak mampu.

Dan ada satu hal yang nggak pernah disadari oleh si kepiting : ember itu gak ada tutupnya. Lubang keluarnya cukup untuk semuanya. Nggak ada satupun kepiting yang harus menarik kepiting lainnya ke bawah supaya bisa naik. Tapi karena yang dilihat cuma kepiting lain yang sedang naik, bukan luasnya lubang di atas, mereka saling tarik-menarik satu sama lain.

Otak kita bekerja dengan cara yang sama. Kamu lihat temanmu berhasil, dan reaksi pertamamu bukan “Oh, aku juga bisa”, tapi “kenapa dia, dan bukan aku?”. Seolah olah keberhasilan itu jatah yang terbatas dan kalau diambil orang lain, berarti bagianmu berkurang.

Padahal kenyataannya nggak begitu.

Kemenangan orang lain bukan berarti kamu kalah. Tapi otakmu selalu bilang kalau kamu kalah, kecuali kamu sudah minimal sadar kalau kenyataannya gak seperti itu.


”Tapi aku memang nggak punya privilege”

Sampai sini, saya tau apa yang dipikirkan oleh kebanyakan dari kalian. Iya, privilege itu nyata.

Nggak semua orang mulai dari titik yang sama. Ada yang lahir di keluarga yang bisa mendanai “eksperimen” yang dilakukan anak-anaknya. Ada orang tua yang punya network luas dan bisa membukakan pintu bahkan sebelum pintunya diketuk. Ada yang punya suatu hal yang sering disebut dengan “Privilege of Failure”, kekayaan untuk bisa mencoba, gagal, dan mencoba lagi, gagal lagi, tanpa perlu menanggung konsekuensi yang bisa menghancurkan hidupnya.

Ini nyata. Saya nggak bilang kalau ini nggak ada.

Tapi, yang saya perhatikan adalah, orang orang menjadikan ‘privilege’ sebagai alasan untuk menjelaskan ke orang lain bahwa ini alasan kenapa mereka nggak bisa mencapai hal-hal besar di dalam hidup mereka.

Jarang sekali ada orang yang mau untuk melihat dan mempelajari apa yang dilakukan oleh orang lain untuk bisa berhasil. Sementara itu, ada orang yang berani untuk mengakui kalau permainannya itu memang gak adil, tapi tetap bermain. Mereka ini yang pada akhirnya bisa menciptakan “keberuntungan” mereka sendiri seiring berjalannya waktu.

Privilege itu memberikan kamu start yang lebih cepat. Tapi nggak memberikan kamu jaminan untuk mencapai garis finish. Ada jutaan orang lain yang beruntung di dunia ini tapi nggak pernah bisa memanfaatkannya. Dan ada juga orang lain yang, hidupnya sial, tidak punya privilege, yang benar-benar mulai dari nol, yang berhasil mencapai hal-hal yang luar biasa. Bukan karena mereka lebih beruntung. Tapi karena mereka menolak untuk menjadikan privilege sebagai syarat untuk keberhasilan.

Yang membedakan orang yang akhirnya berhasil dan nggak itu bukan siapa yang punya level start lebih bagus. Tapi siapa yang nggak berhenti ketika hasilnya belum kelihatan.

Bakal ada fase di mana kamu sudah kerja keras, sudah berkorban, sudah mengeluarkan semua effort kamu, tapi nggak ada perubahan. Progressnya nol. Di fase itulah orang kebanyakan menyerah. Mereka bilang “ini nggak bakal works”, lalu balik ke kebiasaan lama, dan mulai ngomong kalau orang-orang yang berhasil itu “emang beruntung”.

Padahal, mungkin orang yang mereka bilang beruntung itu cuma memutuskan untuk bertahan beberapa bulan lebih lama saat berada di fase yang sama.

Titik awal memang penting. Tapi daya tahan itu jauh lebih penting.


Keberuntungan itu skill. Ini cara kerjanya

Naval Ravikant, seorang angel investor dan entrepreneur yang cukup dikenal di dunia startup, pernah bilang: ‘There are four kinds of luck. And only one of them is blind.’

Saya setuju. Dan saya pikir ini salah satu konsep yang harusnya diajarkan ke semua orang. Karena kebanyakan orang percaya kalau hanya ada satu arti dari keberuntungan. Yaitu sesuatu yang datang, atau nggak datang sama sekali. Antara dapat, atau nggak bakal dapat sama sekali. Nggak bisa dipengaruhi.

Padahal dari empat jenis keberuntungan yang Naval maksud, cuma satu yang datang secara random. Tiga sisanya bisa dibangun. Bisa dipelajari. Dan ini yang bikin orang-orang tertentu kelihatan ‘selalu beruntung’.

Tipe 1: Keberuntungan buta.

Meteor jatuh ke rumahmu. Kamu menang undian berhadiah. Sesuatu yang terjadi di luar kendalimu. Ini tipe keberuntungan yang diyakini oleh orang-orang sebagai arti satu-satunya dari keberuntungan. Tapi bukan.

Tipe 2: Keberuntungan dari mencoba.

Kamu bergerak. Kamu mencoba hal-hal baru. Kamu datang ke tempat-tempat baru. Kamu ngobrol dengan orang-orang yang nggak kamu kenal. Kamu menempatkan dirimu di situasi di mana suatu hal random bisa terjadi.

Semakin banyak kamu bergerak, semakin luas permukaan yang bisa kamu telusuri untuk menemukan keberuntungan. Orang yang duduk di rumah dan cuma scrolling hape saja nggak akan bisa menemukan peluang yang sama dengan orang yang aktif bergerak, belajar, dan membangun koneksi.

Alam semesta nggak pernah memihak satu orang secara acak. Alam selalu menempatkan harta karun di tempat yang nggak pernah kamu kunjungi sebelumnya.

Tipe 3: Keberuntungan dari pengetahuan.

Kamu mendapatkan keahlian di bidang tertentu. Dan karena keahlian itu, kamu bisa melihat peluang yang tidak bisa dilihat oleh orang lain.

Dua orang bisa melihat situasi yang sama, tapi salah satunya nggak melihat apa-apa, sementara orang yang satunya melihat tambang emas. Bedanya bukan keberuntungan. Tapi pengetahuan yang dibangun selama bertahun-tahun belajar untuk bisa melihat apa yang nggak bisa dilihat orang lain.

Tipe 4: Keberuntungan dari karakter.

Ini yang paling powerful.

Kamu membangun reputasi. Orang mengenal kamu sebagai seseorang yang bisa diandalkan, yang bisa menyelesaikan masalah, yang selalu deliver. Dan karenanya, banyak peluang mulai datang ke kamu tanpa kamu cari. Orang merekomendasikan kamu. Pintu terbuka karena namamu sudah punya bobot.

“A lot of people think making money is about luck. It’s about becoming the kind of person that makes money.” — Naval

Baca lagi kalimat ini pelan-pelan. Keberuntungan bukan sesuatu yang terjadi ke kamu. Tapi sesuatu yang terbentuk dari siapa kamu dan apa yang sudah kamu bangun.


Jadi, apa yang harus kamu lakukan?

Di sinilah biasanya kamu menemukan nasihat : “Berhenti membandingkan diri sendiri dengan orang lain”, “Banyak-banyak bersyukur”, “Fokus dengan progressmu sendiri”. Dan semuanya benar. Tapi semuanya nggak berguna. Kenapa? Karena kamu sudah tau semua ini. Tapi masih belum ada perubahan.

Pertama: Ganti kalimat “dia beruntung” dengan “dia memecahkan masalah apa?”

Ini bukan tentang berpikiran positif. Tapi diagnostic tool.

Setiap pencapaian besar itu hanya bisa didapatkan dengan memecahkan masalah yang orang lain nggak mau atau nggak bisa pecahkan. Beginilah cara value bekerja. Beginilah cara kerja dunia karir. Beginilah cara kerja bisnis. Beginilah cara kerja semuanya.

Ketika kamu melihat orang yang sukses, daripada langsung bilang kalau itu adalah hasil dari keberuntungan, coba tanya: Masalah apa yang berhasil dia selesaikan? Untuk siapa? Dengan skill apa? Dan berapa lama dia membangun skill itu?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini jauh lebih berharga daripada quotes motivasi manapun. Karena bisa memberikan kamu blueprint. Sebuah blueprint yang bisa kamu ikuti.

Prinsip dasarnya: value itu hanya bisa dibangun dari masalah yang kamu pecahkan.

Kedua: Lakukan reverse-engineer, jangan membuat perbandingan.

Membandingkan diri dengan orang lain itu seperti mengatakan: “Dia sudah di sana. Aku masih di sini. Aku kalah.”

Sementara itu, reverse-engineering bilang: “Dia sudah di sana. Dia mulai dari mana? Dia gagal berapa kali? Skill apa yang dia pelajari selama ini? Masalah apa yang dia pecahkan sampai orang lain mau bayar mahal?”

Orang yang kamu iri-in itu bukan musuhmu. Dia blueprint-mu. Tapi hanya bisa jadi blueprint kalau kamu mau belajar dari prosesnya, bukan cuma iri dengan hasilnya.

Ketiga: Perbesar luck surface area.

Balik ke tipe keberuntungan menurut Naval. Tipe 2, 3, dan 4 semuanya dalam kendali kamu.

Lebih banyak bergerak. Lebih banyak belajar. Lebih banyak membangun.

Setiap skill yang kamu kembangkan, setiap masalah yang kamu pecahkan, setiap orang yang kamu bantu. Semua ini menjadikan kamu target untuk diberikan peluang lebih banyak.

Keberuntungan nggak akan menemukan orang yang diam. Nggak akan bisa menjangkau orang yang nggak pernah mencoba sesuatu yang baru. Nggak akan bisa memberi reward ke orang yang nggak pernah mengeluarkan karyanya ke dunia.

Kamu nggak bisa menciptakan keberuntungan hanya dengan berharap. Kamu menciptakannya dengan memperbesar permukaan hidupmu, lewat aksi, pengetahuan, dan reputasi, sampai-sampai peluang itu nggak punya pilihan selain menabrakmu.

Keempat: Berhenti menganggap kalau kesuksesan itu zero-sum game.

Keberhasilan orang lain nggak akan mengurangi jatah keberhasilanmu. Ini bukan kue yang kalau dipotong jadi makin kecil.

Kalau kamu menyalakan lilin dari api lilin yang lain, api yang pertama nggak bakal jadi lebih kecil. Dua-duanya tetap menyala sama terangnya. Keberhasilan bekerja dengan cara yang sama. Otak kita memang seperti sudah terprogram kalau sukses itu terbatas, tapi kenyataannya nggak begitu.

Kalau temanmu berhasil, bukan berarti kamu gagal. Ini bukti kalau orang dari circle yang sama, dari latar belakang yang mirip, dari kondisi yang nggak jauh beda, bisa berhasil. Termasuk kamu.

Kepiting yang berhasil keluar dari ember itu bukan yang paling kuat menarik ke bawah. Tapi yang nggak melihat ke bawah sama sekali.


Keberuntungan itu skill. Dan seperti skill lainnya, bisa dipelajari.

Bukan lewat afirmasi. Bukan lewat vision board. Bukan lewat berharap kencang-kencang supaya alam semesta memperhatikanmu.

Tapi lewat aksi. Lewat belajar. Lewat memecahkan masalah yang berarti. Lewat membangun karakter yang bikin orang mau bekerja sama dengan kamu, mempercayai kamu, merekomendasikan kamu.

Orang-orang yang selama ini kamu bilang beruntung? Kebanyakan dari mereka sebenarnya cuma melakukan hal-hal sepele ini, tapi mereka melakukannya lebih lama daripada yang kamu lihat.

Kamu bisa terus bilang mereka beruntung. Atau kamu bisa mulai belajar apa yang mereka pelajari, mengerjakan apa yang mereka kerjakan, dan membangun apa yang mereka bangun.

Kamu bisa memilih untuk tetap tinggal di dalam ember. Atau memilih untuk keluar.

— Galih Cakra, Sentrifugal


Pillar: [[Bisnis Sentrifugal]] Pipeline: [[content-pipeline]] Database: [[Newsletter Database]]