Saya pernah diet ekstrem karena ingin cepat kurus. Hampir gak makan apa-apa sama sekali, yang penting harus bisa cepat kurus. Dalam dua minggu, saya bukannya jadi tambah kurus, tapi malah sakit.
Saya pernah nekat bisnis padahal nggak punya pengalaman apa-apa karena ingin cepat menghasilkan uang. Nggak ada riset, nggak ada mentor, nggak paham apa yang sedang saya lakukan. Cuma modal semangat dan ingin cepat kaya. Tiba-tiba uangnya habis. Bisnisnya nggak jalan. Dan saya kembali lagi ke nol dengan kondisi yang malah lebih parah dibandingkan ketika sebelum mulai.
Semua yang pernah saya coba dengan motivasi ingin dapat hasil yang cepat, hasilnya selalu sama : nggak dapat sama sekali, atau dapatnya malah butuh waktu lebih lama dibandingkan kalau saya mau sabar untuk belajar melakukannya dengan cara yang benar.
Dan saya yakin, banyak orang lain yang merasakan hal yang sama.
Kamu ingin cepat kaya. Ingin cepat bisa punya berat badan ideal. Ingin cepat bisa ketemu jodohmu. Ingin mendapatkan hasil sekarang. Bukan tahun depan. Bukan enam bulan lagi. Harus sekarang.
Dan ketika hasilnya nggak datang secepat yang kamu harapkan, kamu stop. Kamu nyoba hal yang lain. Hal lain yang menjanjikan hasil yang lebih cepat. Dan ketika kamu nggak berhasil lagi, kamu loncat ke hal yang lain lagi.
Tiga tahun kemudian, kamu masih aja di tempat yang sama. Bedanya, sekarang kamu punya banyak sekali koleksi hal-hal yang udah kamu mulai tapi nggak pernah kamu selesaikan.
Masalahnya itu bukan di tujuan atau motivasimu. Bukan juga di usahamu. Masalahnya itu ada di otakmu. Otakmu itu sudah terprogram untuk bisa mendapatkan segala sesuatu dengan instan.
Kenapa otak kita jadi kayak gini?
Coba kita lihat seberapa besar perbedaan kehidupan kita sekarang dibandingkan dua puluh tahun yang lalu.
Dulu kalau mau mendengarkan lagu, kamu harus pergi ke toko kaset, cari-cari CD di rak, lalu menyewa atau membeli kaset itu. Sekarang, kamu cukup buka spotify atau youtube dan dua detik kemudian kamu sudah bisa mendengarkan lagunya.
Dulu kalau kita mau belajar sesuatu, kita harus ke perpustakaan, atau ke teman, cari cari buku yang tepat, harus menghabiskan berjam-jam untuk membaca. Sekarang tinggal buka Youtube sudah pasti ada orang yang menjelaskannya. Atau mungkin tanya AI dan jawabannya langsung keluar dalam 3 detik.
Dulu kalau mau berkabar dengan orang lain, kamu harus telepon, harus janjian, dan beneran ketemu. Sekarang kirim chat lewat wa saja sudah cukup, atau kalau mau ketemu bisa via discord, zoom atau platform komunitas lainnya.
Semua sudah jadi serba instan. Dan otak kita beradaptasi. Otak kita mengkalibrasi ulang ekspektasi kita terhadap hasil. Sekarang, otak kita menganggap kalau semua hal, termasuk hal yang memang sudah seharusnya butuh waktu bertahun-tahun untuk tercapai, bisa tercapai dalam waktu yang lebih singkat.
Belajar skill yang realistisnya butuh 6 bulan untuk dikuasai? Ah kelamaan. Membangun bisnis yang butuh waktu dua tahun? Terlalu lama. Membentuk badan ideal yang butuh usaha konsisten selama berbulan-bulan? Pasti ada cara yang lebih cepat.
Dan ini bisa makin parah kalau kita kecanduan scrolling media sosial. Karena setiap scroll itu memberikan dopamine tanpa perlu mengeluarkan effort sama sekali. Otak kita terus-menerus mendapatkan reward tanpa melakukan apapun. Dan otak kita akhirnya menjadi terlatih untuk menerima reward tanpa mengeluarkan usaha. Otak kita mulai menolak kalau semua hal itu butuh usaha untuk hasil yang harus ditunda terlebih dahulu.
Ini bukan satu-satunya penyebab kenapa sekarang orang jadi nggak sabaran. Tapi ini yang paling membuat parah.
Apakah kita bisa mendapatkan hasil dengan cepat?
Tentunya bisa. Tapi nggak seperti yang kamu bayangkan.
Orang bisa mendapatkan segala sesuatu dengan cepat itu bukan karena dia beruntung atau karena ada jalan pintasnya. Mereka bisa karena sudah tau caranya. Dan mereka bisa tau caranya karena mereka sudah menghabiskan waktu yang lama untuk belajar.
Warren Buffett pernah bilang sesuatu yang pas untuk menjelaskan ini. Ketika dia ditanyai oleh Jeff Bezos : “Your investing strategy is so simple. Why doesn’t everyone just copy it?”. Jawaban Buffett : “Because no one wants to get rich slow”.
Semua masalahnya sudah dijelaskan di satu kalimat itu.
Ini juga yang menjelaskan kenapa banyak orang kaya yang bangkrut bisa kembali kaya. Mereka bisa kehilangan segalanya, uang, aset, bisnis, tapi dalam beberapa tahun, mereka bisa kembali kaya.
Bukan karena beruntung. Karena waktu mereka bangkrut, yang hilang itu cuma uangnya. Bukan pengetahuannya. Bukan skill yang sudah mereka miliki. Bukan pola-pola yang sudah dipelajari. Prosesnya sudah ada di kepala.
Percobaan pertama untuk menghasilkan uang pasti prosesnya lambat. Karena kita masih belajar caranya. Percobaan kedua harusnya bisa lebih cepat. Karena kita sudah tau. Itulah yang terjadi kalau kita mau berpikir dengan jangka lebih panjang. Fokusnya itu bukan di hasil. Tapi di proses yang bisa memberikan hasil.
Kalau belum tau prosesnya, gimana caranya bisa mendapatkan hasil?
Apa yang sudah kamu dapatkan dari berpikir jangka pendek?
Coba pikirkan ini.
Hidupmu saat ini, keuanganmu, kesehatanmu, skill-mu, hubunganmu, itu semua adalah hasil dari keputusan yang kamu ambil di tiga sampai lima tahun terakhir.
Kalau sekarang kamu stuck, itu karena tiga tahun lalu kamu nggak bergerak ke arah yang benar. Atau nggak bergerak sama sekali.
Dan tiga tahun dari sekarang, kamu akan menjadi hasil dari apa yang kamu lakukan hari ini.
Ini bisa terdengar menakutkan atau mungkin memotivasi kamu, tergantung apa yang kamu pilih untuk kamu lakukan.
Tanpa visi jangka panjang, kamu akan mengulangi kesalahan yang sama berkali-kali. Bukan karena bodoh. Saya yakin orang yang membaca tulisan ini punya pemikiran yang lebih maju dibandingkan orang lain. Tapi karena nggak punya arah. Jadi setiap keputusan itu diambil karena reaktif. Random.
Cara memperbaikinya
Saya nggak minta kamu untuk sabar. “Sabar aja” itu nasihat yang nggak berguna. Kalau jawabannya itu cuma sabar, dari awal masalah kayak gini nggak akan ada.
Kamu harus mengubah lingkungan tempat otakmu beroperasi dan memberikan arah yang membuat kesabaran jadi nggak relevan lagi. Supaya kamu menjadi terlalu sibuk untuk mengerjakan prosesnya sampai nggak sempat memikirkan kapan hasilnya akan datang.
1. Latih ulang otakmu
Otakmu kecanduan dopamine instan. Kamu harus meresetnya.
Rapihkan feed media sosial-mu. Unfollow akun-akun yang nggak membantu kamu untuk mencapai goalsmu. Banjiri feedmu dengan pengetahuan yang bisa membantumu mencapai tujuanmu.
Latih otakmu untuk mengkonsumsi informasi yang lebih panjang. Baca artikel, dengarkan podcast, nonton video yang lebih panjang.
Kedengarannya sepele, tapi ini benar-benar bisa melatih ulang kemampuan otak untuk bisa fokus ke satu hal selama lebih dari 30 detik. Kemampuan yang seharusnya normal bagi seorang manusia, tapi rusak karena terlalu banyak menonton konten-konten pendek.
2. Memiliki visi hidup pribadi
Ini hal yang paling mengubah hidup saya.
Ketika saya memutuskan untuk duduk dan jujur mendefinisikan apa yang benar-benar saya inginkan, bukan yang kelihatannya keren, bukan yang dilakukan oleh orang lain, tapi yang benar-benar saya inginkan di dalam hidup saya, semuanya berubah.
Setiap aksi menjadi lebih terarah. Goal yang saya tetapkan jadi lebih masuk akal. Saya jadi lebih konsisten karena saya tau alasan kenapa harus melakukan hal yang saya lakukan.
Setiap goals yang kamu tetapkan, setiap skill yang kamu pelajari, setiap project yang kamu kerjakan, harus terhubung dengan visi jangka panjangmu. Yang lainnya itu cuma distraksi.
Gimana caranya menetapkan visi pribadi?
Naval Ravikant pernah bilang: “The three big ones in life are wealth, health, and happiness. We pursue them in that order, but their importance is reverse.”
Pada dasarnya, hanya ada 3 area besar di dalam hidup kita. Kesehatan, kekayaan, dan hubungan/relationship. Kebanyakan orang pasti mengejar kekayaan duluan, padahal yang paling penting itu adalah kesehatan dan kebahagiaan. Tapi ketiganya saling terhubung satu sama lain.
Coba tanya ke diri sendiri di masing-masing area itu : dalam 3 sampai 5 tahun, kondisi ideal seperti apa yang nggak akan membuat kamu menyesal? Nggak perlu yang paling ideal. Minimal yang nggak membuat kamu menyesal.
Kesehatanmu kayak gimana. Penghasilanmu berapa. Hubunganmu sama siapa dan kualitasnya seperti apa.
Contoh :
Kesehatan: nggak mau ngos-ngosan, mau bisa olahraga rutin, badan nggak gampang sakit.
Berarti visinya: “Dalam 3 tahun, saya harus punya gaya hidup yang bikin badan saya nggak jadi beban.”
Dari situ baru turun ke aksi: mulai olahraga rutin, perbaiki pola makan, tidur yang cukup. Skill yang dipelajari: dasar-dasar nutrisi, program latihan yang cocok.
Kekayaan: nggak mau hidup gaji ke gaji, mau punya tabungan darurat, mau punya penghasilan tambahan.
Berarti visinya: “Dalam 3 tahun, saya harus punya fondasi keuangan yang bikin saya nggak panik setiap bulan.”
Dari situ turun ke aksi: belajar mengelola keuangan, cari side income, mulai nabung konsisten. Skill yang dipelajari: freelancing, investasi dasar, atau skill yang bisa dijual.
Hubungan: nggak mau sendirian, mau punya circle yang support, hubungan keluarga nggak berantakan.
Berarti visinya: “Dalam 3 tahun, saya harus punya lingkungan sosial yang bikin hidup saya lebih baik, bukan lebih berat.”
Dari situ turun ke aksi: mulai keluar dari circle yang menghambat, cari komunitas baru, perbaiki komunikasi sama keluarga.
Dari jawaban di tiga area itu, visimu lama-lama akan terbentuk. Dan setiap goals yang kamu tetapkan, setiap skill yang kamu pelajari, setiap project yang kamu kerjakan akan terhubung ke salah satu dari tiga area ini.
3. Pecah jadi proyek-proyek yang lebih kecil
Kalau kamu mau bertahan di permainan jangka panjang, kamu harus bisa menang di perjalanannya. Nggak harus kemenangan besar. Yang kecil saja sudah cukup.
Prinsipnya : hasil menciptakan momentum, momentum bikin kamu terus jalan. Tapi khusus untuk tujuan jangka panjang, kamu butuh milestone yang membuktikan kamu sedang maju meskipun hasil yang besar masih jauh untuk dicapai.
Kalau visimu itu tujuan tiga tahun, pecah jadi proyek enam bulanan. Pecah lagi jadi target bulanan. Pecah lagi jadi aksi mingguan. Setiap kemenangan kecil itu bukti kalau kamu berada di jalur yang benar.
4. Lifelong learning
Pengusaha, kreator, dan pemimpin terhebat punya satu kesamaan: mereka nggak pernah berhenti belajar. Bukan semata-mata karena dipaksa keadaan. Tapi karena mereka memang pada dasarnya orang yang penasaran.
Hasil itu efek samping dari belajar. Kalau kamu fokus belajar dan mengaplikasikan ilmu dengan membuat proyek, kamu akan mengumpulkan kemenangan-kemenangan kecil di perjalananmu. Dan kemenangan-kemenangan kecil itu akan menumpuk menjadi sesuatu yang jauh lebih besar seiring berjalannya waktu.
Hidup itu permainan jangka panjang. Dan satu-satunya cara untuk bermain permainan jangka panjang adalah terus belajar. Belajar apa? Belajar hal-hal yang membantu kamu mencapai visimu.
5. Bermain permainan jangka panjang dengan orang yang berpikir jangka panjang
Kamu nggak bisa berpikir jangka panjang kalau cuma dikelilingi orang yang pikirannya jangka pendek.
Batasi paparan dengan orang yang selalu pesimis, nggak bertanggung jawab, atau nggak punya visi untuk hidupnya sendiri. Bukan berarti langsung meninggalkan mereka begitu saja. Tapi untuk bisa bertumbuh, kamu harus berani keluar dari lingkungan yang bikin kamu stuck di tempat yang nyaman.
Idealnya, kamu harus menemui juga orang yang punya visi jangka panjang di hidupnya sendiri. Orang yang bergerak pelan-pelan tapi konsisten. Yang rajin menabung. Yang rajin belajar. Yang rajin membangun.
Bukan orang yang cuma ngomong saja. Tapi yang konsisten aksi.
Otakmu itu sebenarnya nggak rusak, atau membusuk. Otakmu hanya terpengaruhi oleh dunia yang menghargai ketidaksabaran.
Tapi otakmu masih bisa dilatih ulang. Bukan dengan dipaksa supaya harus sabar. Tapi dengan membangun lingkungan yang nggak serba instan, menciptakan visi yang memberikan arah untuk setiap aksimu, dan mengelilingi dirimu dengan orang-orang yang bermain permainan jangka panjang.
Tujuan utamamu itu bukan mendapatkan hasil secara jangka pendek. Itu cuma efek samping dari visi jangka panjangmu.
“Hal-hal besar itu dimulai dari yang kecil. Pohon terbesar di hutan itu awalnya muncul dari sebutir biji. Dan kamu harus memberikan waktu untuk biji itu bertumbuh.”
Mulai tanam sekarang. Tapi jangan berharap pohonnya bisa muncul dalam semalam.
— Galih Cakra, Sentrifugal
Related
Pillar: [[Bisnis Sentrifugal]] Pipeline: [[content-pipeline]] Database: [[Newsletter Database]]