Setiap kali saya pergi nongkrong dengan teman-teman saya, entah itu mancing, jalan-jalan, ngopi, saya nggak pernah bisa beneran enjoy. Selalu ada sesuatu yang ngganjal di belakang kepala. Bukan sedih. Bukan cemas juga. Cuma… datar. Kayak saya ada di situ secara fisik tapi pikiran saya di tempat lain.

Saya ngeliat orang-orang di sekitar saya ketawa, santai, kelihatan benar-benar menikmati momen. Dan saya heran kenapa saya nggak bisa ngerasain hal yang sama. Kenapa semuanya rasanya kayak saya sedang menonton hidup saya sendiri dari layar, bukan menjalaninya.

Saya nggak depresi. Saya yakin nggak. Saya masih bisa kok menjalani aktivitas seperti biasa. Masih bisa pergi kerja. Nggak pernah ada pikiran aneh-aneh. Tapi rasanya nggak ada semangat. Nggak ada yang bikin excited untuk bangun besok pagi. Nggak ada yang dinanti-nanti. Seperti menjalani hidup yang datar. Hari demi hari.

Kalau kamu pernah ngerasa kayak gini, nggak sedih, nggak senang, cuma… kosong, kamu pasti paham apa yang saya maksud.


Kenapa semuanya terasa datar?

Saya pikir ada yang salah dengan hidup saya. Seperti kurang seru. Kurang menarik. Kurang banyak hal yang terjadi.

Jadi saya coba perbaiki dengan hiburan. Lebih sering nongkrong. Lebih sering jalan-jalan. Lebih banyak distraksi. Dan memang terasa lebih baik. Di tiga jam pertama. Setelah itu, rasanya balik datar lagi. Selalu begitu.

Masalahnya itu bukan karena kurang hiburan. Masalahnya adalah, saya nggak punya tujuan.

Ketika kamu nggak mengerjakan hal yang bermakna di hidupmu, hidup jadi terasa autopilot. Hari-hari terasa membosankan. Senin terasa seperti hari jumat, dan hari jumat terasa seperti hari Minggu. Kamu mengulang hal yang sama terus-menerus, dan nggak ada yang berubah karena memang nggak ada yang dirubah. Karena kamu nggak sedang membuat apa-apa.

Belum lagi ditambah dengan dopamine murahan. Scrolling medsos, nonton berjam-jam, ngemil tiap waktu. Semuanya memberikan otakmu stimulasi yang berlebihan, tapi nggak pernah cukup untuk membuatmu merasa hidup. Jadi kamu berada di antara dua kondisi. Nggak cukup menderita untuk berubah. Nggak cukup bersemangat untuk menikmati.


Kenapa hiburan nggak pernah cukup

Satu hal yang saya sadari adalah: Setiap kali saya mencoba untuk menikmati sesuatu, entah itu liburan, nongkrong sampai tengah malam, atau makan makanan enak, selalu saja ada rasa bersalah yang mengikuti. Ada suara yang bilang: “Kamu masih punya masalah yang belum kamu selesaikan. Dan kamu sedang berpura-pura kalau semuanya baik-baik saja.”

Untuk beberapa saat saya selalu mencoba untuk mengabaikannya. Saya bilang ke diri sendiri kalau saya memang butuh istirahat. Saya mencoba untuk “menikmati momen.” Tapi masalahnya nggak pernah hilang. Mereka menunggu saya pulang.

Saya pikir, cara termudah untuk menghadapi masalah adalah dengan melupakannya. Tapi ternyata masalah itu nggak pernah melupakan saya. Dia terus datang dan menuntut untuk diselesaikan. Nggak peduli seberapa keras saya mencoba untuk menikmati hidup, rasa bersalah dari masalah yang belum diselesaikan itu selalu ada di belakang layar, dan membuat semua hal jadi terasa kurang menyenangkan untuk dijalani.

Hiburan itu seperti obat pereda nyeri. Bisa membuat kita lupa sebentar dengan masalah yang kita miliki. Tapi nggak pernah menyembuhkan apapun. Dan ketika efeknya habis, sakitnya masih ada. Kadang malah lebih parah, karena sekarang kita juga kehilangan waktu yang seharusnya dipakai untuk benar-benar menyelesaikannya.


Yang saya lakukan untuk akhirnya bisa enjoy dengan hidup

Sebenarnya, jawabannya itu simpel. Bukan mencari hobi baru. Bukan lewat meditasi. Bukan lewat liburan. Bukan.

Jawabannya itu.. menyelesaikan masalah yang selama ini saya hindari.

Masalah keuangan yang selama ini saya hindari? Saya akhirnya merenung dan beneran mengaudit kondisi keuangan saya. Saya mulai membuat rencana. Saya mulai eksekusi.

Masalah karir yang selama ini membuat saya cemas? Saya akhirnya beneran mikirin apa yang saya mau di luar karir saya dan mulai bergerak ke sana.

Masalah kesehatan yang selalu saya tunda? Saya mulai perbaiki dan care dengan tubuh saya sendiri, dan saya coba untuk selesaikan.

Uniknya, semakin banyak masalah yang saya hadapi, saya malah bisa semakin menikmati hidup. Bukan enjoy karena masalahnya hilang. Beberapa diantaranya butuh waktu berbulan-bulan untuk diselesaikan. Tapi karena rasa bersalahnya yang hilang. Suara di belakang kepala yang bikin semuanya terasa datar itu, lama-lama jadi semakin hilang setiap kali saya mengambil satu langkah untuk menyelesaikan sesuatu.

Kuncinya itu bukan kita harus memilih salah satu antara menikmati hidup atau menyelesaikan masalah. Tapi melakukan keduanya secara bersamaan. Menikmati hidup sambil menyelesaikan masalah. Itu yang saya lakukan.


Cara agar kamu bisa enjoy dengan hidupmu lagi

1. Coba hal baru, tapi yang menyelesaikan masalah nyata

Ini bukan tentang mencari hobi baru atau hiburan baru. Tapi menemukan aktivitas yang menyelesaikan masalah di tiga area paling penting di hidupmu : kesehatan, kekayaan, dan hubungan/relationship.

Badanmu mulai terasa nggak karuan? Cari aktivitas fisik yang nggak bikin kamu tersiksa. Nggak harus gym atau marathon. Kamu bisa mulai dari jalan kaki. Renang. Main bola. Apa saja yang penting badanmu terus bergerak dan memberi kamu alasan untuk meneruskannya karena akhirnya fisikmu semakin sehat.

Keuanganmu berantakan? Pelajari sesuatu yang bisa menghasilkan pemasukan tambahan atau paling nggak pelajari hal yang bisa membantu kamu mengelola apa yang sudah ada. Jangan mempelajari hal karena kedengarannya keren (ie: trading, credit card miles, dll). Tapi belajar karena rekeningmu sudah teriak minta tolong.

Kehidupan sosialmu mati? Coba taruh dirimu di tempat di mana ada orang-orang yang sedang “mengerjakan sesuatu”. Bukan acara networking. Tapi komunitas dengan minat yang sama.

Kamu nggak butuh hobi yang kedengarannya paling seru. Kamu butuh hobi yang bisa membantu kamu menyelesaikan masalah yang selama ini kamu abaikan.

2. Isi harimu dengan aktivitas yang bermakna

Kebanyakan hari kita diisi dengan melakukan sesuatu yang nggak ada value dan nggak membuat kita berkembang sama sekali. Kita menjalankan rutinitas yang sama. Mencentang daftar to do list. Dan di penghujung hari, kamu nggak bisa menunjuk satu hal pun yang beneran penting.

Makanya hidup terasa hambar. Karena memang kebanyakan dari aktivitas yang dilakukan itu nggak ada gunanya.

Tujuan hidup kamu itu seharusnya menyelesaikan masalah. Masalahmu sendiri dulu. Baru masalah orang lain. Menyelesaikan masalah yang nyata itu bisa memberikan kita rasa puas yang nggak pernah bisa ditandingi oleh hiburan apapun.

3. Belajar lagi. Belajar terus.

Kebanyakan orang berhenti belajar begitu mereka lulus sekolah. Padahal pembelajaran yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Hal-hal yang benar-benar kita pakai di kehidupan yang nyata, seperti kebijaksanaan, kreativitas, kemampuan problem solving, komunikasi, networking, semuanya nggak ada yang diajarkan di ruang kelas. Semuanya hanya bisa dipelajari dari pengalaman. Dari menjawab rasa penasaran. Dari belajar banyak hal baru tanpa harus disuruh oleh guru dan orang tua kita.

Pada dasarnya, manusia itu suka dengan hal yang baru, yang ada unsur kebaruan. Otak kita itu butuh input data yang baru. Dan kita bisa melakukannya dengan belajar hal-hal baru.

Bingung harus belajar apa? Belajar apa saja yang bisa membantu kamu menyelesaikan masalah yang ada di depan matamu sekarang. Mulai dari situ.

4. Bikin project pribadi. Ciptakan sesuatu.

Dulu ketika saya ingin belajar bisnis untuk pertama kali. Daripada saya cuma baca buku atau nonton tutorial dari internet. Saya pergi ke saudara saya yang punya usaha pabrik baju dan membantu dia membangun aset dan ekosistem digital bisnisnya. Ini project.

Hasilnya memang nggak maksimal. Bisnisnya nggak tiba-tiba langsung dapat ribuan leads atau ratusan ribu views di media sosial. Tapi saya belajar jauh lebih banyak dari satu project itu jika dibandingkan dengan menonton puluhan video tutorial. Dan saya juga dibayar dari bantuan yang saya berikan.

Proyek itulah yang menjadi titik awal saya untuk bisa akhirnya coding, menulis artikel, membuat konten, digital marketing. Hal-hal yang sama sekali di luar bidang saya sebelumnya. Semuanya terjadi karena saya mengubah rasa penasaran (ingin tau bisnis) menjadi sebuah project, bukan cuma saya simpan di kepala.

Cara terbaik untuk belajar dan mengaplikasikan ilmunya adalah dengan membuat project. Dan kamu mengumpulkan satu kemenangan penting di perjalanan belajarmu jika projectmu berhasil atau sekedar selesai.

5. Bantu orang lain yang pemikirannya sama

Saya pernah mengeluh ke teman saya: “Kenapa kayaknya nggak ada orang yang bisa ngerti dengan apa yang saya rasain? Kenapa nggak ada orang di sekitar saya yang punya ambisi yang sama?”

Jawaban dia simpel: “Ya mereka memang bukan orang yang tepat. Kamu harus mencari orang yang sesuai. Pergi ke tempat mereka.”

Salah satu kepuasan terbesar di hidup itu datang ketika kamu bisa membantu seseorang yang punya cara pikir yang sama dengan menyelesaikan masalah yang sedang dia hadapi. Dari situlah tercipta hubungan yang riil. Bukan dari sekedar networking. Tapi dari saling berbagi apa yang sedang dibangun dan saling membantu menyelesaikan masalah.

Share projectmu. Dan bantu project orang lain. Begitulah caranya menemukan orang-orang yang tepat.


Hidup itu memang penuh masalah. Faktanya, memang nggak akan pernah habis. Masalah nggak akan pernah berhenti datang.

Kamu nggak akan bisa menikmati hidup kalau kamu lari dari masalah. Kamu baru bisa enjoy ketika kamu menghadapinya, satu per satu, sambil menemukan cara baru untuk menyelesaikannya dan orang-orang baru di perjalananmu.

Masalah yang terus menghantui kamu nggak akan bisa hilang hanya karena kamu mencoba untuk melupakannya. Tapi rasa bersalahnya bisa hilang, kalau kamu menghadapinya.

Di momen itulah hidupmu jadi nggak terasa lempeng lagi.

— Galih Cakra, Sentrifugal


Pillar: [[Bisnis Sentrifugal]] Pipeline: [[content-pipeline]] Database: [[Newsletter Database]]